RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Entah apa yang merasuki beberapa ibu di negeri ini? Ibu yang seharusnya menjadi pelindung, memberi kasih sayang dan perhatian bagi buah hatinya justru berubah menjadi sosok yang menyakiti, menganiaya, bahkan tega membunuh darah dagingnya sendiri.
Anak yang ia kandung sembilan bulan lebih, dilahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, disusui, serta dibesarkan meregang nyawa ditangannya sendiri.
Publik seperti diutip inewws.id (5/11/2019) terkejut mendengar kabar seorang ibu berinisial S tega memasukkan bayi yang baru ia lahirkan ke dalam mesin cuci dengan alasan pacarnya tidak mau bertanggungjawab.
Sebelumnya laman detik.com (25/11/2019) mengungkap ibu berinisial NP mengaku menyesal telah menganiaya anaknya ZNL yang baru berusia 2,5 tahun hingga tewas dengan cara digelonggong air. Ia mengaku tidak dapat mengontrol emosinya serta mendapat tekanan psiki dari suami dan mertuanya.
Ini bukan yang pertama, dan mungkin bukan pula yang terakhir. Beragam motif dan modus yang dilakukan seorang ibu tega menganiaya bahkan membunuh anaknya sendiri. Ada pula yang sampai memaksa anaknya berhubungan intim nauzubillahi min zalik.
Naluri keibuan digerus habis sehingga tega melakukan hal keji tersebut. Banyak faktor yang melatarbelakangi seperti ekonomi, kecemburuan, kurang nya perhatian orang terdekat khususnya suami, kelelahan, stress, dan gangguan kejiwaaan. Selain itu tidak adanya jaminan kesejahteraan wanita khususnya ibu oleh negara juga menjadi memicu kejadian ini terus berulang.
Wanita yang sejatinya adalah tulang rusuk kini tak sedikit yang merangkap sebagai tulang punggung, ada yang sekadar membantu suami dan ada pula karena terpaksa menggantikan peran suami karena sang suami sakit, cerai, meninggal dan lainnya.
Di luar rumah, emansipasi disuarakan begitu memikat kaum hawa untuk berpacu dan berlomba bersama pria di ruang publik demi karis dan profesi. Wanita bangga jika bisa berkarir di luar rumah dan punya penghasilan sendiri.
Bagi mereka, profesi sebagai ibu rumah tangga hanya profesi murahan yang membuat mereka minder. Mereka bosan dengan aktivitas rumah tangga yang itu itu saja, sehingga mudah stress.
Belum lagi cibiran dan sikap meremehkan posisi dan profesi ibu rumah tangga.Padahal ini adalah profesi mulia.
Dilansir oleh harian Kompas, (02/02/2019), Badan Pusat Statistik menyatakan angka kemiskinan di Indonesia mencapai 25,67 juta orang.
Kemiskinan mendekatkan pada kekufuran salah satu bentuknya melakukan kemaksiatan. Kemiskinan berdampak langsung pada keluarga karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar hidupnya.
Seorang ayah dipersulit mencari nafkah, ibu terpaksa turun tangan, anak-anak terabaikan, stress melanda dan akhirnya melakukan kemaksiatan berupa penganiayaan, penelantaran, ekploitasi anak, bahkan pembunuhan.
Padahal seorang anak memiliki hak-hak yang dijamin dan dilindungi oleh Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 pasal 3 tentang Perlindungan Anak Jo UU No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang menyebutkan:
“Perlindungan anak-anak bertujuan menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, dengan terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.”
Standar kebahagian dalam sistem kapitalis adalah terpenuhinya atau mendapat sebanyak-banyaknya kebutuhan jasmani dan naluri sehingga banyak orang berlomba mengejar semua itu bahkan tak lagi peduli halal haramnya.
Wanita didorong keluar dari rumahnya bahkan meninggalkan keluarga bertahun-tahun demi disebut pahlawan devisa.
Disisi lain suami sebagai kepala keluarga kadang tidak peka, abai, bahkan tidak peduli dengan semua itu. Saat ini banyak suami justru bangga istrinya lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, bahkan menjadikannya tidak bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah, bahkan mirisnya bertukar peran dengan sang istri mengurus anak dan keluarga.
Sistem pergaulan yang tidak Islami dimana interaksi pria dan wanita bebas, tidak sesuai aturan Islam membuat banyak lelaki berstatus suami bermaksiat di luar rumah, imbasnya kurang perhatian pada keluarga khususnya istrinya.
Sedangkan istri yang mendedikasinya hidupnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga sering dipandang sebelah mata. Jam kerja yang melebihi pekerjaan lainnya seringkali tidak dihargai. Pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, mengurus anak dianggap sesuatu yang biasa sehingga tak diperhitungkan. Padahal jika di standarkan dengan gaji seorang pembantu, baby sitter, koki dan sebagainya maka niscaya suami tidak akan sanggup membayarnya.
Sejatinya istri bukan butuh materi, tapi perhatian sebagai tanda terima kasih dan penghargaan dan jika bukan suami, siapa lagi yang dia harapkan memberikannya.
Dalam islam kedudukan wanita khususnya ibu sangat tinggi, bahkan tiga kali dibanding ayah. Surga berada di bawah telapak kakinya, ia menjadi sumber kebahagian dalam keluarga dan magnet rizki bagi suaminya.
Islam juga mengatur masalah kesejahteraan wanita dengan membebani kewajiban nafkah kepada suami, jika ia tidak ada beralih pada walinya, masyarakat dan negara. Sehingga istri bisa optimal menjalankan tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.
Dalam Islam negara wajib menjamin terpenuhinya semua kebutuhan primer rakyatnya terutama kaum ibu dan perempuan.
Islam juga memberi solusi mengatasi kemiskinan dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan mekanisme pendistribusian harta, saling tolong menolong berupa kerja sama ekonomi, pengupahan yang layak, jaminan kesehatan dan kemudahan lainnya.
Sehingga para ibu tidak perlu lagi bersusah payah ikut bekerja, menanggung beban yang tak seharusnya ia pikul, sehingga mengurangi kewarasannya.
Bekerja bagi seorang wanita dalam Islam hukumnya mubah, dan ia tidak dilarang berkiprah di ranah publik asal tidak melalaikan kewajiban utamanya apalagi jika profesi itu memang dibutuhkan umat seperti tenaga pendidik, tenaga kesehatan, atau profesi lain yang membutuhkan peran wanita. Wallahu a’lam.[]
Comment