Tawati: Wujud Cinta Sejati Kepada Nabi SAW

Opini644 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di tengah situasi kegembiraan Perayaan Maulid Rasulullah saw, banyak umat tidak menyadari, bahwa pada bulan yang sama beliau wafat. Ya, dalam riwayat yang mu’tabar, beliau wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal 11 H. Beliau wafat dalam usia sekitar 63 tahun. Persis pada tanggal dan bulan yang sama dengan tanggal dan bulan kelahirannya.

Beliau wafat sekitar waktu Dhuha sudah mulai memanas. Hari tersebut dirasakan para sahabatnya sebagai hari tergelap dalam hidup mereka (Al-Mubarakfuri, Ar-Rahîq al-Makhtûm, 402-403)

Menjelang wafat Rasulullah saw., Anas bin Malik ra. berkomentar, “Aku tak pernah melihat satu hari pun yang lebih baik dan terang benderang daripada hari kehadiran Rasulullah saw. di tengah-tengah kita. Aku pun tak pernah melihat satu hari yang lebih buruk dan gelap daripada hari wafatnya Rasulullah saw.”(HR al-Darimi dan al-Baghawi).

Anas ra. menceritakan tentang hari tersebut, “Saat itu para sahabat menjalankan shalat shubuh pada hari Senin. Abu Bakar mengimami mereka, tidak ada yang membuat mereka terperanjat kecuali saat Rasulullah saw. yang tengah sakit, menyingkap tirai kamar Aisyah ra. dan melihat mereka berada di barisan shalat. Kemudian beliau tersenyum. Lalu Abu Bakar hendak mundur ke belakang untuk masuk shaf. Mengira Rasulullah saw. akan mengimami mereka.”

Anas ra. menambahkan, “Kaum Muslim hampir saja membatalkan shalat mereka. Diliputi sukacita mendalam atas kehadiran Rasulullah saw. Namun ternyata, Rasulullah saw. mengisyaratkan dengan tangannya agar mereka menyelesaikan shalat. Lalu beliau masuk kembali kamar Aisyah ra. Menutup tirainya.” (HR al-Bukhari).

Saat Dhuha tiba, Rasulullah saw. memanggil Fatimah. Beliau membisikkan sesuatu kepadanya. Fatimah nangis. Lalu beliau kembali memanggil Fatimah dan membisikkan sesuatu kepadanya. Kali ini Fatimah tertawa.

Saat Rasulullah saw. sudah wafat, Fatimah ditanya tentang apa yang dibisikkan ayahnya kepadanya. Fatimah menceritakan, “Nabi saw. membisikkan kepadaku bahwa beliau akan wafat pada sakit yang beliau derita itu. Mendengar itu aku menangis. Kemudian beliau kembali membisikkan kepadaku bahwa aku orang pertama dari keluarganya yang akan menyusul beliau. Mendengar itu aku pun tertawa.” (HR al-Bukhari).

Saat itu beliau pun memanggil kedua cucunya, Al-Hasan dan al-Husain, mencium keduanya dan menasihati keduanya.

Beliau juga mengumpulkan istri-istrinya. Menasihati mereka dan berpesan kepada mereka.

Detik-detik terakhir dari kehidupan beliau berada ditemani Aisyah ra. Istri tercinta beliau tersebut menyandarkan suaminya ke dirinya. Aisyah ra. menceritakan, “Sungguh di antara nikmat Allah kepadaku adalah saat Rasulullah saw. wafat di rumahkku, pada hari giliranku dan di dadaku.”

Saat sakratul maut di pangkuan Aisyah ra. beliau bertutur dengan lirih, “Ya Allah, ampuni aku, rahmati aku, dan pertemukanlah aku bersama al-Rafîq al-A’la (Kekasih Yang Mahatinggi). Ya Allah, pertemukanlah aku bersama Ar-Rafiqul Ala (Kekasih Yang Mahatinggi).”

Beliau mengulang kalimat terakhir sampai tiga kali (HR al-Bukhari; ad-Darimi, Misykat al-Mashâbih, II/547).

Itulah kata-kata terakhir beliau. Tak lama, tangan beliau jatuh terkulai. Beliau wafat. Berjumpa dengan Ar-Rafiq al-A’la. Inna lilLâhi wa inna ilayhi râji’ûn.

Pada hari senin, bulan Rabiul Awal tahun 11 H, Nabi saw. wafat. Hari itu adalah waktu dhuha yang penuh kesedihan. Bumi kehilangan orang yang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di atasnya.

Aisyah ra. bercerita, “Ketika kepala beliau terbaring, tidur di atas pahaku, beliau pingsan. Kemudian (saat tersadar) mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berucap, Allahumma ar-Rafîq al-A’la.” (HR al-Bukhari dalam Fâth al-Bâri, 8/150 No. 4463).

Beliau wafat setelah menyempurnakan risalah dan menyampaikan amanah.

Berita di pagi duka itu menyebar di antara para sahabat. Dunia terasa gelap bagi mereka. Mereka bersedih karena berpisah dengan al-Khalîl al-Musthafa. Kalbu-kalbu mereka berguncang. Tak percaya bahwa kekasih mereka telah tiada. Saking besarnya cinta mereka kepada Rasulullah saw. di antara mereka ada yang tak terima dengan kenyataan bahwa beliau telah wafat. Di antaranya adalah Umar bin al-Khaththab ra. Beruntung, beliau tersadar saat diingatkan dan dinasihati oleh oleh Abu Bakar ash-Shiddiq ra. (Ibnu Hajar dalam Fath al-Bâri, 8/146).

Terkait besarnya cinta para sahabat kepada Rasulullah saw. beliau pernah bersabda, “Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ibu-bapaknya, anak-anaknya dan seluruh manusia.” (HR Muslim).

Secara fitrah manusia dihiasi oleh rasa suka atau kecintaan terhadap istri, anak-anak, harta dan perhiasan, kendaraan, hewan piaraan, kebun dan tanaman, dll (Lihat TQS Ali Imran [3]: 14). Namun demikian, kecintaan atas semua itu tidak boleh mengalahkan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Hal demikian dicela oleh Allah SWT (Lihat: TQS at-Taubah [9]: 24). Karena itu kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya harus ditempatkan paling tingga di atas kecintaan pada apapun.

Allah SWT mengukur cinta seorang hamba kepada Diri-Nya dengan sejauh mana hamba itu mencintai dan mengikuti (meneladani) Rasulullah saw., sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Katakanlah, “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Dia akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (TQS Ali Imran [3]: 31).

Mengikuti Nabi saw. tidak lain dengan menjalankan Islam secara kaffah (totalitas) mengamalkan seluruh syariah-Nya baik dalam level pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Itulah wujud cinta sejati kita kepada Nabi saw. Sudahkah cinta sejati itu mewujud dalam diri kita? Wallahua’lam[].

Tawati, Aktivis Muslimah Majalengka

Comment