Sumiati*: Apresiasi Menghidupkan Kebekuan

Opini961 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Banyak kasus di tengah masyarakat seseorang terpuruk hidupnya karena celaan, hinaan. Baik seorang istri yang selalu dicela suami, seorang anak yang selalu dicela orang tuanya, seorang sahabat dicela oleh sahabatnya, bawahan dicela oleh atasannya, murid dicela oleh gurunya.

Fakta ini sungguh miris, karena sang pelaku tidak atau pun sadar sedang menghancurkan masa depan orang lain. Lebih tragis dari itu ia sedang menanam dosa investasi, yang kelak Allah perlihatkan buah tingkahlakunya di dunia.

Seorang suami yang tidak bersyukur atas pernikahannya, senangnya mencela pekerjaan, masakan, bahkan fisiknya istri. Sehingga sepanjang hari seorang istri hidup di bawah tekanan.

Merasa tidak berharga, tidak berguna, hingga akhirnya hidupnya penuh dengan derita.

Ada seorang anak yang selalu dicela keahliannya, selalu salah dan kurang, sehingga menjadi anak yang tidak kreatif, menutup diri, enggan berkreasi.

Ada pula seorang murid yang selalu disalahkan oleh seorang guru yang tidak sabar dengan kekurangan muridnya. Membandingkan dengan murid yang lain yang lebih cerdas dan kreatif. Secara tidak langsung sang guru sudah membuat runtuh masa depan murid ketika mereka kelak hidup di masyarakat.  Lebih dari itu, sang murid akan hilang rasa hormat kepada guru yang tidak memiliki adab.

Begitupun dengan seorang teman yang suka mencela temannya. Hingga temannya terpuruk menyendiri dan di dalam hatinya penuh kebencian. Ia merasa tidak berharga dan mulai menyendiri, tidak mau bersosialisasi.

Begitupun jika seorang atasan yang tidak peka, kebiasaan mencela pekerjaan anak buahnya. Hingga akhirnya anak buahnya tidak lagi menyimpan rasa hormat dan yang lebih parah adalah mental seorang bawahan yang akhirnya runtuh dan rapuh.

Semua ini terjadi, tidak lain karena sang pelaku tidak paham menjadi suami yang shalih, menjadi orang tua yang shalih, menjadi guru yang beradab, menjadi teman yang solid, menjadi atasan yang bijaksana.

Ini semua dampak minimnya pemahaman terhada ajaran Islam dalam kehidupan sehari hari.  Islam seakan dibuang dari hidupnya. Walaupun statusnya seorang muslim atau muslimah. Syariat Islam hanya tinggal hiasan, dan ia akan gunakan syariat itu untuk menuntut haknya saja tetapi mengabaikan kewajiban yang harus ia tunaikan.

Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw mencontohkan kepada umat agar menjadi suami yang shalih. Lihatlah bagaimana sikap beliau ketika masakan Siti Aisyah kelebihan garam. Beliau tidak mencelanya, beliau hanya meminta Siti Aisyah mencobanya.

Tentu setelah mencobanya Siti Aisyah pun sangat malu, tetapi sikap Rasulullah saw. tidak menyakiti Siti Aisyah.

Begitupun ketika beliau menjadi ayah, masya Allah teladan paripurna. Ketika beliau menjadi pemimpin, beliau tidak segan menerima usulan sahabat Salman al Farisi dalam strategi perang.

Di saat beliau mengajarkan Al-Quran kepada para sahabat, beliau begitu sabar, saat beliau memosisikan sebagai sahabat, sahabat beliau merasa nyaman berada di sisi beliau dengan segala bijak beliau.

Inilah ayat Al-Qur’an sebagai dalil bahwa Rasulullah saw. adalah teladan mulia.

Allah Swt berfirman :

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا ﴿٢١﴾

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(Q.S.33:21)

Begitupun Allah Swt berfirman, terkait larangan mencela,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿١١﴾

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(Q.S.49:11). Wallaahu a’lam bishshawab.[]

*Praktisi pendidikan

Comment