Solusi Serius Tuntaskan Konflik Palestina-Israel

Opini461 Views

 

Penulis:  Eka Purwaningsih, S.Pd  | Aktivis Muslimah, Pegiat Literasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Konflik Palestina-Israel kembali memanas. Dilansir dari laman CNN Indonesia, Ahad 15 Oktober 2023,  Perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, Palestina telah terjadi sejak 7 Oktober 2023 hingga sekarang.

Sepekan terlewati, ultimatum waktu untuk warga mengungsi pun telah habis. Selain itu, korban berjatuhan makin tertambah. Jumlahnya sudah mencapai dua ribuan nyawa tewas.

Palestina dianggap sebagai pemicu karena memulai serangan lebih dulu. Padahal itu adalah bentuk balasan atas perilaku dan serangan keji selama bertahun-tahun yang dilancarkan Israel terhadap Palestina.

Laman kumparan.com (18/05/2021) menulis bahwa israel telah lama menjajah kaum muslim Palestina. Dalam sejarah Pendudukan Israel dan awal konflik 1948 sudah 70 tahun lebih. Selama operasi militer Israel telah memakan korban 91.973 jiwa dari tahun 1920 hingga tahun 2021.

Operasi militer yang dilakukan israel tersebut tidak hanya memakan korban jiwa tapi juga melakukan perluasan pemukiman pada tahun 1967 hingga sekarang wilayah Palestina hanya tinggal secuil. Namun rakyat Palestinapun tidak berdiam diri justru semakin gigih melakukan Intifada (perlawanan) memperjuangkan hak-haknya.

Anehnya, kejahatan perang Israel selama 75 tahun itu tidak pernah mendapatkan perhatian dan kecaman serius dari lembaga internasional. Inilah bukti hipokrit para penguasa di dunia internasional.

Konflik Palestina-Israel telah melalui banyak langkah penyelesaian. Sejak awal pembentukan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) 24 Oktober 1945, Majelis Umum telah mengeluarkan sejumlah resolusi terkait Israel-Palestina.

Namun hingga saat ini konflik tak kunjung selesai bahkan kian memanas. Hal ini menjadi wajar menimbang negara negara yang memiliki suara di PBB.

Menyerahkan penyelesaian konflik Palestina ke PBB bukanlah solusi. Tentu Palestina dan kaum muslimin tidak akan rela jika tanah Baitul Maqdis dibagi dua dengan Israel, Karena sejatinya tanah itu milik kaum muslimin sepenuhnya.

Melihat kejahatan ini, tidak satu pun negeri muslim yang berani bertindak. Mayoritas hanya mampu mengecam. Hal ini akibat ide nation state yang meracuni negeri-negeri kaum muslim hingga menganggap konflik Palestina-Israel adalah sekedar konflik 2 negara yang sedang berebut wilayah.

Padahal lebih dari itu, masalah Palestina adalah masalah umat Islam di seluruh dunia yang mempertaruhkan kehormatan kaum muslimin. Di sana kiblat pertama kaum muslimin, di sana pula peristiwa Isra’nya Rasulullah SAW sebelum Mi’raj kelangit ke-7.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa kaum muslim satu dan yang lain ibarat satu tubuh. Jika bagian tubuh satu sakit, tubuh yang lain akan merasa sakit. Kaum muslim itu bersaudara. Mereka saling membantu agar rasa sakit itu hilang. Jika ada yang sedang terzalimi atau merasakan musibah, menjadi kewajiban muslim lainnya untuk membantu.

Tidak hanya meringankan beban tetapi juga membebaskan mereka dari kezaliman yang ada, termasuk yang dialami muslim Palestina saat ini.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk Palestina?

Berdo’a sudah pasti. Jika bisa menggalang dana, lakukan. Boikot restoran atau produk apapun yang dananya untuk persenjataan Israel.  Semua itu bagus. Namun tak kalah penting adalah mencari solusi tuntas agar bisa membebaskan Palestina khususnya dan negeri-negeri kaum muslim lain yang terzalimi seperti Rohingnya, Ughyur dengan mengerahkan seluruh tentara kaum muslimin untuk jihad fii sabilillah dalam satu komando seorang khalifah.

Harus ada satu kepimpinan internasional bagi kaum muslimin yang tegas lagi berwibawa –  yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir sekaligus kepemimpinan seperti dalam catatan sejarah.

Palestina dua kali diperjuangkan oleh kaum muslim. Pertama oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Kedua, oleh Shalahuddin al-Ayubi. Hingga akhirnya Palestina menjadi tanah kharajiah, yakni selamanya tanah Palestina milik kaum muslim.

Atas dasar itu pula Khalifah Abdul Hamid II juga mati-matian mempertahankan Palestina yang akan direbut Yahudi.

Tapi sayangnya sistem dan pememimpin seperti itu belum ada. Tugas maum muslim untuk bejuang mewujudkannya dengan dakwah Islam Kaffah. Menyadarkan pemikiran ummat agar sadar bahwa solusi konflik Palestina- Israel hanya bisa terselesaikan dengan Jihad dan Khilafah.

Musuh-musuh Islam ketika meruntuhkan Islam butuh waktu beribu tahun, maka untuk mengembalikan kejayaan Islampun butuh waktu, kesabaran dan keistiqamahan sampai Allah berkenan memberi pertolonganNya. Semoga kita termasuk orang-orang yang berjuang dan tidak berdiam diri terhadap penderitaan saudara seiman dan seakidah. Wallahu ‘alam Bishawwab.[]

Comment