Rizqi Minallah: Dari Free Berubah Jadi Berbayar, Mengapa?

Opini186 Views

 

Penulis: Devita Deandra | Aktivis Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Sehat dan segala fasilitas dunia yang bisa kita nikmati di dunia ini pada hakikatnya dari Allah dan menjadi rizki buat kita (Makhluk Allah) tanpa terkecuali, namun sayang tak banyak dari kita bisa menikmati fasilitas dunia ini secara gratis.

Sebagai contoh, ketika kita ingin menikmati indahnya lautan, harus merogoh kantong alias membayar, menikmati indahnya pegunungan pun sama. Dari sini kita paham dan menyadari bahwa ternyata fasilitas dunia yang datangnya dari Allah tersebut tak seluruhnya bisa kita nikmati sebagai rizkiminallah secara gratis.

Mengapa? Sebab konsep rizki minallah adalah segala sesuatu yang bisa kita nikmati tanpa harus bersusah payah dan mengeluarkan biaya mahal.

Oksigen sebagai contoh lain. Bila kita sakit dan membutuhkan oksigen – kita harus mengeluarkan anggaran besar padahal oxigen itu merupakan rizqi minallah yang dihirup secara gratis setiap saat tanpa harus membayar.

Lalu ketika semua itu dimiliki manusia dan diberikan kepada kita tidak ada lagi kata gratis padahal asal rizqi itu adalah gratis.

Minyak bumi, air, batu bara, emas dll adalah karunia dan rizqi minallah bagi warga Indonesia. Namun kini karunia tersebut tidak bisa dinikmati secara gratis. Mengapa?

Hal ini disebabkan SDA tersebut telah dikuasai dan dikelola dan dimiliki oleh individu dari kalangan para pemodal alias kapitalis.

Dari sini sadarlah kita mengapa keyakinan pada konsep rizki minallah selama ini masih kurang utuh?

Pertama: Sebagai orang beriman memang kita wajib yakin rizki itu minallah, namun rizki minallah tidak berlaku dalam kehidupan hari ini, terutama yang berhubungan dengan materi. Contohnya apa?

Kebutuhan hidup, pendidikan, dan kesehatan merupakan sebagian contoh yang kita rasakan.

Ini hanya sebagian contoh kebutuhan primer manusia, yang tidak bisa kita dapatkan dengan gratis tanpa syarat dan ketentuan yang berlaku.

Kembali lagi ke rizki minallah, penulis bukan tidak yakin tapi di sini penulis hanya sedang mengajak berfikir bagaimana rizqi yang sejatinya bisa dinikmati secara gratis mengapa kemudian harus berbayar? Salam sehat.[]

Comment