Rina Fauziah S.pt*: New System Untuk Semua Ras

Opini663 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Nama George Floyd tengah menggema seantero dunia. Pemberitaan internasional belakangan ini memboomingkan kasus pembunuhan dirinya oleh seorang polisi yang bernama Derek Chauvin. Kasus ini yang melatarbelakangi aksi protes yang mengguncang Amerika Serikat pada awal juni 2020. Floyd adalah satu seorang laki-laki berkulit hitam yang video penangkapannya viral dengan seorang polisi yang tengah menginjakan lututnya ke leher Floyd. Insiden inilah yang membuat Floyd akhirnya kesulitan bernafas dan kehilangan nyawanya.

Kejadian ini mengakibatkan aksi protes menuntut keadilan untuk Floyd. Kematian warga ras hitam telah menghiasi keidupan keras ala kapitalis di Amerika Serikat. Dilansir dari katadata.com, kasus pembunuhan sepanjang tahun 2013-2019 dari data mappingviolence.org menunjukkan 26% dilakukan oleh Departemen Polisi di 100 kota terbesar di AS. 38% korbannya adalah warga kulit hitam afrika-amerika.

Tindakan rasisme bukanlah hal yang baru, sejak penjajahan dunia yang dilakukan oleh negara barat kepada negara-negara timur hingga tahun 2020 masih saja berlangsung. Genosida, kekerasan, pelecehan hingga sederet kriminal yang dilakukan atas perbedaan suku, ras dan national state masih menjamur hingga tahun milenial ini.

Kasus yang menimpa Floyd ini hanyalah sebagian kecil saja, bagaimana dengan genosida besar yang dilakukan oleh muslim Myanmar, Penjajahan Palestina oleh Israel, tindakan otoriter penguasa terhadap penduduk sipil Suriah, Yaman dan muslim uighur di China dan di belahan bumi lainnya.

Di mana para penegak HAM, kesetaraan, demokrasi dan toleransi yang selalu menggebu-gebu dan arogan dalam menyanjung ide-ide mereka. apa mereka telah lupa atau justru memang menutup mata kepada sebagian kejadian pelanggaran HAM kepada ras non kulit putih? Sungguh nilai-nilai modern ala kapitalis sekuler hanyalah slogan apik untuk kepentingan kelompok elit.

Sistem kapitalis sekuler yang memisahkan kehidupan dengan aturan agama telah jelas tak memiliki kekuatan dalam menciptakan keharmonisan antar ras yang berbeda. Sistem ini menjadikan kehidupan hedon dan materialistik selalu hidup pada setiap hati sanubari manusia dan menganggap manusia yang berasal dari ras yang tak rupawan sebagai ras yang kalah, lemah dan dijadikan budak.

Islam memandang bahwa perbedaan terhadap ras, suku dan bahasa adalah sebuah sunnatullah. Perbedaan adalah hal yang biasa, hal ini sesuai dengan firman Allah Swt, “ Wahai manusia, sesungguhnya Aku menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS. Al Hujurat:13)

Perbedaan ini pernah dicontohkan harmonis pada masa Rasulullah Saw dan para sahabat. Siroh telah mengungkapkan bahwa tidak ada ras yang unggul diantara para manusia melainkan bagi orang-orang bertaqwa. Kita bisa melihat bagaimana islam memuliakan seseorang diantara saudara yang lain.

Kisah harmoni itu bisa kita dapat dari dua orang sahabat Rasulullah Saw yakni Abu Bakar ash Shidiq dengan Bilal bin Rabbah. Bilal yang lahir dengan fisik kulit hitam khas Afrika dan berstatus budak yang pada saat itu disiksa oleh majikannya sebab keimanan terhadap islam dibeli oleh Abu Bakar lalu dimerdekakan dan diangkat menjadi saudaranya,  merupakan contoh bahwa islam sangat memuliakan seseorang tanpa memandang fisik dan derajatnya.

Bahkan bilal justru menjadi sahabat Rasulullah Saw yang dipercaya untuk mengumandangan kali pertama adzan.

Keharmonisan antar ras ini pun terus dijaga oleh para khalifah sepeninggalan Rasulullah Saw hingga 13 abad dengan 2/3 wilayah dunia. Afrika, asia, sebagian eropa yang begitu luas dapat hidup dengan aman dan damai dibawah kepemimpinan islam sebab islam memberikan kesejahteraan dan kedamaian atas semua ras tanpa sedikitpun memandang perbedaan diantara mereka. waallahu ‘allam bishowab. []

Comment