Penulis: Diana Nofalia | Aktivis Muslimah Riau
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Di akun instagram resmi @smindrawati, Sri Mulyani menulis, memerangi kemiskinan dan kebodohan adalah upaya yang terus dilakukan untuk mencapai cita-cita Indonesia. Caranya adalah dengan meningkatkan kualitas SDM Indonesia.
Ia menyebutkan, tak hanya melalui pendidikan, kesehatan juga tak kalah penting terutama untuk mengurangi gizi buruk pada anak. Anak-anak yang sehat adalah cikal bakal SDM yang produktif dan berdaya saing.
Terkait dengan momentum Hari Kesehatan Nasional 2023, Direktur Medis IHC dr Lia Gardenia Partakusuma mengatakan bahwa pemanfaatan ekosistem digital dapat meningkatkan inovasi bisnis dan daya saing di bidang kesehatan.
Menurutnya, seperti ditulis laman jpnn.com, ekosistem digital sektor kesehatan mengacu pada jaringan teknologi, perangkat dan pemangku kepentingan yang saling terhubung dan bekerja sama untuk menyediakan layanan perawatan kesehatan yang komprehensif dan tanpa batas.
Hari Kesehatan Nasional 2023 mengangkat tema ‘Transformasi Kesehatan untuk Indonesia Maju’. Indonesia maju tentu membutuhkan SDM yang berkualitas. Namun sayangnya saat ini masih banyak persoalan kesehatan yang menghambat terwujudnya SDM berkualitas, seperti tingginya stunting dan kemiskinan, mahalnya layanan kesehatan dan kualitas layanan kesehatan yang masih jauh dari harapan.
Transformasi kesehatan seharusnya lebih mengarah pada terselesaikannya persoalan kesehatan yang belum tuntas dan bukan memprioritaskan transformasi ekosistem digital. Hal yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah solusi nyata dari pemerintah untuk mengatasi stunting dan kemiskinan yang makin hari makin meningkat. Solusi yang diharapkan tentu bukan solusi parsial ataupun formalitas belaka namun sebuah solusi tepat sasaran.
Mahalnya layanan kesehatan juga masih menjadi problem mendasar bagi masyarakat saat ini. Walaupun ada sebagian masyarakat yang mendapatkan biaya yang murah itu hanya sebagian kecil. Biaya murah belum pararel dengan kualitas pengobatan dan pelayanan yang berkualitas. Dengan kata lain, hari ini di bidang pelayanan kesehatan kita masih merasakan konsep “ada uang, ada barang”.
Seakan masih tampak sebuah konsep ekonomi untung-rugi antara penguasa dan rakyat dalam memberikan pelayanan kesehatan. Hal ini tidak dapat dipungkiri terjadi dalam sistem kapitalisme saat ini, termasuk di bidang pelayanan kesehatan.
Islam menjadikan layanan kesehatan sebagai kebutuhan dasar yang menjadi tanggung jawab negara, sehingga masyarakat mendapatkan layanan berkualitas, murah dan mudah terjangkau. Pelayanan ini tidak memandang kaya ataupun miskin karena ini adalah hak rakyat yang mesti dipenuhi oleh negara.
Islam memiliki berbagai pos pemasukan sehingga negara mampu menyelenggarakan layanan kesehatan murah bahkan gratis namun tetap berkualitas.
Ditinjau dari jenis harta, pos-pos penerimaan negara dengan sistem pemerintahan Islam terbagi ke dalam tiga bagian.
Pertama, terdiri dari bagian fa’i dan kharaj yang menghimpun pemasukan dari ghonimah, fa’i, anfal, kharaj., Jizyah, harta milik negara, ‘usyur, harta ilegal penguasa, pejabat dan pegawai serta harta yang diperoleh dengan tindakan curang lainnya, khumus barang temuan dan tambang yang jumlahnya terbatas, harta waris yang tidak ada ahli warisnya, harta orang murtad, dan harta dari pungutan dharibah.
Kedua adalah bagian pemilikan umum yang menghimpun pemasukan dari hasil-hasil pengelolaan harta milik umum.
Bagian ketiga, zakat yang menghimpun harta zakat.
Dengan pos-pos penerimaan negara tersebut, problem biaya dan pelayanan kesehatan yang mahal dapat teratasi, bahkan negara mampu memberikan pelayan kesehatan gratis bagi rakyatnya. Wallahu a’lam.[]
Comment