Oleh: Athiefa Dienillah, Ibu Rumah Tangga
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang yang bertakwa (ialah seperti taman), mengalir di bawahnya sungai-sungai; senantiasa berbuah dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang yang bertakwa; sedangkan tempat kesudahan bagi orang yang ingkar kepada Tuhan ialah neraka.
[Surat Ar-Ra’d 35]
Menemukan persoalan 3 orang anak yang saling ber’sengketa’ dalam mengurusi ibunya yang sedang sakit. Sementara anak yang sedang mengurus ibunya, merasa sudah lelah dan tidak sanggup terus mengurusi ibunya. Maka ia menuntut kakak lelakinya yang sedang kesulitan hidup untuk bertanggung jawab dan menggantikan tugas merawat dan mengurusi ibu mereka.
Sedih hati melihat persoalan ini, karena saya merasa ada di posisi orang tua, membayangkan betapa sedihnya seorang ibu, saat mengetahui dirinya menjadi beban bagi anak anaknya.
Tiga anak, mengurus seorang ibu merasa tak kuat menahan beban, padahal dulu ia mengurus 3 anaknya, tak pernah merasa terbebani.
Tak pantas bagi seorang anak merasa terbebani mengurus orang tua. Anak anak memang harus merawat orang tua mereka di sisa umurnya.
Bukankah Allah janjikan untuk mereka syurga, jika mereka sanggup berbakti pada keduanya?
عبد الله ابن مسعود رضي اللهُ عنه قال: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى اللهُ عليه وسلم أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قُلتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ»، قُلتُ ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ».
Abdullah bin mas’ud ra bertanya pada Nabi SAW:
“Amal apa yang paling dicintai Allah SWT? Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya. Kemudian berbakti pada kedua orang tua, kemudian Jihad fi Sabilillah.” (HR Bukhari Muslim)
Dalam hadits lain Rasul SAW bersabda,
روى مسلم في صحيحه من حديث أبي هريرة رضي اللهُ عنه أن النبي صلى اللهُ عليه وسلم قال: «رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ»، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ الله؟ قَالَ: «مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ».
“Sangat merugi, kemudian sangat merugi, kemudian sangat merugi. Dikatakan Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ” seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”
Maka anak yang memahami konsep birrul walidain, tentu tak akan menyia nyiakan kesempatan mendapatkan syurga yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul_NYA.
روى الترمذي في سننه من حديث أبي الدرداء أن النبي صلى اللهُ عليه وسلم قال: «الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ».
“Orang tua adalah pintu surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan atau Kelian bisa menjaganya”
Jika ke 3 anak tersebut adalah anak anak yang Shaleh dan Shalehah, Insya Allah mereka akan berebut untuk mengurusi ibu nya.
Persoalannya adalah bahwa realita terkadang tidak sesimple teori.
Beberapa kendala mungkin muncul pada situasi ini karena memang ‘SYURGA’ itu memang tidak mudah. Untuk memasukinya, Allah akan hadirkan banyak ujian yang harus dilewati. Bagai mendaki gunung dengan tepi penuh onak dan duri.
Salah satu ujian dari Allah itu mungkin muncul saat hendak mewujudkan birrul walidayn
1. Yang merawat, merasa lelah, bosan terbebani dan merasa tidak memiliki biaya dalam mengurus orang tua.
Untuk mengatasi persoalan ini maka harus ada perubahan pemikiran di benak anak anak terkait kondisi orang tuanya.
Harus tertanam dalam diri anak anak bahwa orang tua mereka bukan beban tapi justru berkah yang Allah berikan.
Jika anak merasakan lelah maka imbalan syurga lebih dari cukup sebagai penghapus lelah untuk mereka.
Persoalan terkait biaya, bukankah rizki itu minallah? Maka yakinlah akan selalu ada rizki tak terduga dari Allah, saat kita tunjukan bakti pada orang tua. Insya Allah.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2)
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq: 2-3)
Sebagai seorang muslim, kita harus yakin hal ini, dan lakukan bakti pada orangtua. Yakinlah Allah akan selalu bersama kita.
Kalaupun ada yang akan dimusyawarahkan terkait siapa yang akan merawat dan menanggung biaya perawatan, maka lakukan musyawarah dengan semangat FASTABIQUL KHAIRAT.
Sejatinya, tiap anak hendaknya berusaha memberi yang terbaik untuk orang tuanya.
Ujian ke 2 bisa jadi muncul saat anak laki laki yang diharapkan menanggung beban orang tua, qadharullah tidak sesuai yang diharapkan. Ia tinggal jauh dari orang tua, tidak memiliki pekerjaan tetap, masih tinggal dengan mertua ditambah banyak anak.
Bila kondisi demikian, maka adik adik perempuan yang memiliki kemampuan secara finasial dan tinggal dekat dengan orangtua, sepatutnya mengambil kesempatan syurga ini tanpa harus menuntut kakak lelaki yang sedang dalam kesulitan dengan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
Hal ini dilakukan dengan keyakinan dan tentu dengan cara berfikir bahwa Allah akan memudahkan urusan hamba_NYA yang memudahkan urusan orang lain. Tidak inginkah kita dimudahkan Allah dalam segala urusan kita?
Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah menjelaskan:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.
Ujian ke 3 mungkin terkendala ijin dari suami/istri mereka. Maka di sini butuh komunikasi untuk menyamakan pemikiran dengan pasangan, terkait birrul walidayn, rizki minallah dan memudahkan urusan saudara.
Setelah sama pemikiran dan perasaan semua anak anak dan pasangannya, maka sebenarnya, dengan keimanan dan ketaqwaan persoalan ibu atau bapak yang sudah tua dan sakit bukan lagi menjadi masalah.
Kalau saja hal ini menjadi masalah, mungkin saja anak anaknya yang bermasalah. Maka perlu dipertanyakan kesholehan dan bakti mereka kepada orang tua.
Ujian ke 4, jika semua anak anak dan kerabat ternyata tak mampu merawat dan mengurusi orangtua mereka.
Di sinilah terasa, jika kaum muslimin membutuhkan negara yang akan menjadi pelindung mereka. Tugas dan tanggung jawab anak anak akan diambil alih oleh negara sehingga orang tua tetap terawat dan terurus hingga akhir hayatna.
Persoalannya, dalam sistem hari ini, adakah negara memberi perhatian terhadap persoalan birrul walidayn ini?
Susah berharap, kecuali pada sistem yang menerapkan hukum Allah di dalamnya. Wallahu alam.[]
Comment