![]() |
Nurfitrianti Vivi |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sebelumnya kuucapkan ahlan wa sahlan, baarakallaahu fiik Om Deddy Corbuzier yang telah memantapkan niatnya untuk ber ISLAM.
Kabar tentang niat ingin pindah agama, sebenarnya sudah ‘dibongkar’ dalam video di akun channel youtube Corbuzier beberapa hari yang lalu. Bahkan persaksiannya mengucapkan dua kalimat syahadat ingin ditayangkan lewat stasiun televisi nasional. Pro kontra pun terjadi, tak sedikit pula yang nyinyir, bahkan Deddy dianggapnya hanya ingin gaya – gayaan. Seakan mereka lebih tau isi hati seseorang daripada ALLAH.
Selain itu, ternyata hal ini juga mendapat penolakan keras dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Dilansir pada suara.com bahwa KPI menolak dengan alasan bahwa acara tersebut dianggap rasis. KPI juga menilai program siaran wajib menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan. Muatan tersebut juga dinilai KPI berpotensi menyinggung atau merendahkan perbedaan keyakinan antar umat beragama.
Namun, penolakan KPI tersebut ternyata menimbulkan banyak pertanyaan di antara penduduk Indonesia, terutama pada kelompok kaum Muslimin.
Kenapa? Bukankah Indonesia menganut sistem demokrasi yang pilarnya adalah kebebasan? Dan terkait hal ini adalah freedom of religion (kebebasan beragama), lalu mengapa menolak untuk dipertontonkan? 3LjiBiti saja yang jelas – jelas rasis malah dipertontonkan secara bebas dan lulus sensor ditayangkan melalui film layar lebar ‘Kucumbu Tubuh Indahku’.
Lha ini bahkan di negeri mayoritas Muslim menolak untuk mempertontonkan syahadat yang seharusnya diapresiasi dan disambut dengan baik.
Lagi – lagi inilah demokrasi sedang mempertontonkan keambiguannya. Disatu sisi meyakini kebebasan, namun disisi lain tidak ‘mengamalkan’ apa yang diyakini.
Untuk saudaraku, Om Deddy Corbuzier ketahuilah bahwa SYAHADAT tak sekedar ucapan.
Ketika kita bersaksi bahwa Tiada TUHAN selain ALLAH dan Muhammad adalah utusan ALLAH, maka kita pun meyakini sepenuhnya bahwa segala aturan dan hukum bersumber dari ALLAH dan meyakini bahwa Nabi Muhammad saw adalah satu – satunya panutan kita dalam menjalani seluruh kehidupan, berbangsa, hingga bernegara. Inilah konsekuensi dari SYAHADATAIN.
Saya tidak peduli Om Deddy berada di kelompok Muslim manapun, bahkan ada yang sangat ‘ashabiyah’ (ashabiyah atas fobiahnya dengan Khilafah) sampai – sampai dia ingin ‘jihad’ mengembalikan Deddy ke kristen jika bergabung memperjuangkan Khilafah. Padahal Khilafah adalah ajaran Islam.
Maka tulisan ini hanya sekedar apresiasi dari Syahadat seorang Corbuzier. Jika ternyata Islam liberal, maka kritik dan dakwah untuk meluruskan takkan pernah padam hingga membawanya di bawah naungan the real Hitam Putih, yakni di bawah naungan bendera Rasulullah saw (hitam itu Ar Rayah dan putih itu Al Liwa).[]
*Koord. Tim Media dan Kreatif Muslimah KARIM Indonesia
Comment