RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — New normal yang menjadi wacana pemerintah kini sudah mulai diterapkan di sebagian wilayah Indonesia. New normal life (tatanan kehidupan baru) rupanya juga menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu sebagian orang.Khususnya para pelaku usaha ekonomi.
Kebijakan new normal dilakukan setelah masa PSBB berakhir. Istilah new normal ini mulai muncul saat pandemi covid-19 yang berasal dari wuhan.
Berdasarkan ketentuan WHO, penerapan new normal bisa dilakukan ketika suatu negara atau daerah berhasil mengendalikan angka penyebaran Covid-19.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Data terakhir pertanggal 7 Juli 2020 kasus bertambah 1.268 hari ini. Dengan penambahan tersebut, total kasus positif COVID-19 menjadi 66.226.(detik.com)
Sebelumnya, terjadi penambahan kasus positif Corona pada Senin (6/7) sebanyak 1.209 kasus. Total kasus per kemarin adalah 64.958. Sebanyak 29.919 di antaranya dinyatakan sembuh dan 3.241 meninggal dunia.
Dari data tersebut sudah jelas bahwasannya negara Indonesia belum dapat mengendalikan laju penambahan kasus covid-19. Ini menggambarkan bahwa new normal bukanlah momentum tepat untuk beraktivitas di luar rumah. Meski saat new normal ditetapkan protokol kesehatan, namun masih banyak masyarakat yang tidak paham dan bahkan menyepelekan.
Sebagian masyarakat menggangap protokol kesehatan ini dilaksanakan agar tidak diberi sangsi bukan lebih kepada bahaya covid-19. Jadi aturan tersebut mereka anggap sebagai larangan yang jika tidak dilakukan maka akan dikenakan denda bukan memahami risiko terinfeksi penyakit.
Dampak covid-19 memang sangat besar, bukan hanya terinfeksi bahkan kematian yang terus mengancam nyawa seseorang. Belum lagi kondisi perekonomian yang juga dirasakan oleh masyarakat.
Banyaknya perusahaan yang tutup mengakibatkan melonjaknya jumlah masyarakat yang terkena PHK.
Kini mereka banyak yang sakit bahkan meninggal bukan karna corona namun juga karna mati kelaparan.
Namun pemerintah bukan memberikan solusi yang tepat untuk kondisi saat ini tapi lebih memilih new normal untuk mengembalikan roda perekonomian.
Presiden Joko Widodo pun mengajak masyarakat hidup berdampingan dengan virus corona Covid-19 itu.
Hal ini karena Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan terdapat potensi bahwa virus ini tidak akan segera menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat.
“Artinya kita harus hidup berdampingan dengan Covid-19. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, berdamai dengan Covid,” kata Presiden seperti dikutip dari siaran pers resmi, Jumat (15/5/2020).(kompas.com)
Saat new normal life menjadi kabar gembira bagi pelaku usaha, namun tidak demikian dengan para tenaga kesehatan (nakes), khususnya yang menangani pasien Covid-19 yang semakin hari semakin bertambah. Rekan-rekan nakes pun tidak sedikit yang gugur dalam tugas mulianya.
Namun sayang instruksi tersebut tidak dapat menghadang serangan corona. Justru upaya pemerintah menghimbau untuk berdampingan dengan corona mengakibatkan masyarakat mulai banyak beraktivitas di luar dan menambah jumlah kasus covid-19.
Keputusan pemerintah untuk new normal sebetulnya belum tepat. Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dr. Panji Fortuna Hadisoemarto juga menilai pemerintah seharusnya fokus pada menekan angka kasus virus corona dahulu ketimbang berpikir melonggarkan aturan demi ekonomi.(cnn-indonesia)
“Kesehatan harus aman dulu baru ekonomi bisa tumbuh. Pedomannya itu harus aman dan produktif, jangan terbalik produktif dulu baru nanti aman,” ucapnya.
Sementara itu Iwan Sumule, Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) menilai penerapan new normal bukan hanya membingungkan publik dan seakan pemerintah ingin menghindari tanggung jawab pada rakyat.
“Bagaimana tidak, transmisi covid-19 kan belum teratasi ini mau bikin new normal. Ini terlihat jelas karena pemerintah enggan memenuhi kebutuhan rakyat selama masa PSBB. Sebab jika PSBB terus diperpanjang, maka keuangan negara di era Jokowi yang terlalu bergantung pada utang memang tipis,” jelasnya.
Saat ini masyarakat dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat sulit. Penerapan PSBB yang tentunya akan berdampak bagi kegiatan ekonomi atau pemberlakuan new normal life yang sangat beresiko terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat.
Namun benarkan tidak ada titik terang untuk mengatasi permasalahan ini? Haruskah masyarakat pasrah tanpa menemukan solusinya? Tentu tidak, sebagai umat Islam sudah seyogyanya berusaha mengatasi masalah pandemi ini. Kita tidak boleh berpangku tangan, tetap yakin akan pertolongan Allah SWT.
Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular.
Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita.
Kemudian terukir juga dalam sejarah, bagaimana dulu masa kepemimpinan Umar bin Khattab pernah mengalami wabah Tha’un yang melanda seluruh negeri Syam, wabah ini telah memakan korban 25.000 jiwa lebih.
Lalu beliau menaati sabda Rasulullah saw “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).
Selain itu pada saat terjadi wabah, penguasa muslim seperti Umar juga menjamin segala kebutuhan yang diperlukan di wilayah terdampak. Sehingga mereka tercukupi kebutuhannya walau sedang dikarantina.
Jadi jelas peran seorang penguasa atau pemimpin sangat penting dalam mengatasi masalah wabah saat ini. Saat ini rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Mereka harus mengayomi rakyatnya dengan bijak.
Dengan penjelasan di atas jelas bahwa penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam bingkai Daulah Khilafah akan menjadi solusi terbaik bagi segala problematika kehidupan. Terlebih masa pandemi seperti saat ini. Negara pengemban Kapitalisme seperti USA telah nampak tak berdaya mengatasi pandemi.
Maknanya, sistem hidup buatan manusia (baca: kapitalisme) tidak mampu mengatasai problematika hidup manusia secara tuntas. Namun dengan Islam Insya Allah hidup bukan hanya kembali normal, tapi juga akan sejahtera. Wallahualam.[]
*Pengusaha Muslimah
Comment