RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Klaster baru kembali bermunculan di Bekasi, tak tanggung-tanggung puluhan pabrik menyatakan pekerjanya terpapar Covid-19.
Dilansir dari Kompas.com, kasus Covid-19 muncul secara berurutan usai pemerintah melonggarkan PSBB. Sejak 8 Juli lalu, sebanyak 423 karyawan di 5 pabrik industri di Kabupaten Bekasi terpapar Covid-19. Rata-rata mereka berstatus orang tanpa gejala (OTG).
Lima daftar pabrik besar itu di antaranya adalah PT Nippon Oliseal, Pabrik Motor Suzuki, LG Elektronik, dan PT Unilever. Pada dua pekan lalu, PT Nippon Oliseal Kagyu (NOK) melaporkan sebanyak 88 karyawannya yang positif Covid-19 kepada Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bekasi. 68 orang merupakan warga Kabupaten Bekasi. Sedang sisanya warga luar Kabupaten Bekasi.
Sekitar pertengahan Agustus pabrik Motor Suzuki di Tambun 1 juga melaporkan sebanyak 71 karyawan bagian perancangan sepeda motor terpapar Covid-19. Hingga pabrik terpaksa membuat keputusan mengurangi produksi 50% untuk memutus penyebaran virus.
Belum lagi dua pabrik besar lainnya seperti LG Elektronik di mana 242 orang positif Covid-19. PT Unilever ada 21 karyawan pabriknya dilaporkan terpapar Covid-19.
Bukan hanya di klaster industri, ratusan anak di Bekasi terkonfirmasi positif Covid-19. Berdasarkan data laman resmi Pemerintah Kota Bekasi, per 5 Agustus 2020, penyebaran Covid-19 pada usia 0 hingga 19 tahun tercatat 41 kasus terkonfirmasi positif. Sementara di Kabupaten Bekasi dengan usia yang sama ada 135 kasus.
Dari sebaran kasus yang ada, diduga penyebarannya melalui klaster keluarga dan aktivitas di luar rumah menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka positif Covid-19.
Rumah Sakit hampir penuh pasien Covid-19
Lonjakan pasien Covid-19 ini pun mengakibatkan kapasitas Rumah Sakit khusus penanganan pasien virus corona dilaporkan sudah hampir penuh.
Sebagaimana yang disampaikan Eko Nugroho, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia Kota Bekasi, dalam laman portal megapolitan.kompas.com bahwa rumah sakit swasta rujukan di Kota Bekasi tak mampu lagi menampung pasien Covid-19 dengan gejala berat. Menurut Eko, sejumlah rumah sakit swasta rujukan di Bekasi kini mulai kehabisan ruangan isolasi bertekanan negatif atau Hepa Filter dengan ventilator.
“Datanya per hari ini ada 490 sekian (pasien Covid-19), tetapi data itu bergerak terus yah. Ini gejala ringan dan gejala berat. Berarti hampir sebagian besar rumah sakit ful, terutama yang butuh ventilator. Jadi kalau misalkan ada kasus berat, Kota Bekasi sudah tidak bisa menampung,” ujar Eko seperti dilansir kompas.com) 12/9/2020).
Tak pelak jika Bekasi menjadi sorotan karena menyumbang kasus Covid-19 terbanyak di Jawa Barat.
Lebih memilih PSBM
Melihat peliknya permasalahan kasus Covid-19 amat disayangkan jika Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, lebih memilih Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) dibanding tarik rem PSBB seperti Jakarta. Dengan dalih tingkat kematian yang sangat rendah dan jumlah pengetesan di Jabar sudah mencapai 314.000 tes PCR.
Selain itu, menurutnya ada beberapa pabrik di Bekasi yang tidak terkait dengan Jakarta. Padahal Bekasi merupakan salah satu daerah penyangga Ibu Kota.
Dikutip dari kompas.com keputusan itu diambil seusai menggelar rapat virtual bersama para kepala daerah di Bodebek di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Senin (14/9/2020).
Memang miris, di bulan ke enam sejak awal munculnya kasus Covid-19, pemerintah daerah tidak sigap dan tanggap dalam penanganannya. Melonjaknya angka positif Covid-19 menandakan fase kenormalan baru atau new normal yang dijalankan pemerintah, walau tetap dengan protokol kesehatan yang dianjurkan tetap tak mampu memberikan efek yang signifikan dalam menekan angka penyebaran pandemi.
Cara Islam menangani pandemi
Hal ini sangat kontras dengan pengaturan kesehatan dalam sistem islam. Di mana ia merupakan satu-satunya sistem yang memberi rasa tenteram dan ketenangan bagi kehidupan umat manusia. Pun dalam memberikan solusi untuk segera mengakhiri wabah.
Dikisahkan dalam Fathu al-Bari, Ibnu Umar menceritakan bahwa Umar ra. keluar ke Syam, ketika tiba di Syargh, sampai kepadanya bahwa wabah terjadi di Syam. Lalu Abdurrahman bin Auf memberitahunya bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datang ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.”
Maka kemudian Umar pun mengambil kebijakan penanganan wabah tersebut sesuai dengan yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.
Selain itu, tercatat dalam sejarah rumah sakit Islam pertama didirikan pada masa kekhilafahan Al-Wali bin Abdul Malik. Rumah sakit ini khusus untuk penyakit lepra.
Pada masa itu terdapat dua macam rumah sakit, yaitu rumah sakit permanen yang didirikan di kota-kota dan rumah sakit yang berpindah-pindah. Jarang sekali ditemukan kota Islam, walaupun kecil, tanpa ada rumah sakit di dalamnya.
Pemerintah membangun banyak rumah sakit yang berkualitas sangat tinggi. Fasilitas kesehatan yang lengkap. Memiliki unit-unit spesialis sehingga penanganannya tepat dan begitu hati-hati. Pasien masuk ke ruang khusus sesuai jenis penyakitnya agar mencegah penularan.
Semua pelayanan kesehatan tersebut diberikan kepada orang yang sakit tanpa adanya diskriminasi antara orang kaya dan orang miskin, baik muslim maupun non muslim. Bahkan umumnya pengobatan diberikan secara gratis tanpa harus menghiba.
Saatnya kembali kepada Islam yang akan menjamin terpenuhinya hak-hak setiap warga negara. Terciptanya suasana aman dan keimanan tetap terjaga bukan hil yang mustahal meskipun ditengah pandemi seperti yang tengah kita hadapi saat ini. Wallahu a’lam bisshawab.[]
*Anggota Revowriter 12
Comment