Oleh: Citra Salsabila, Pegiat Literasi
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menjadi pemimpin bukanlah perkara mudah. Perlu kecakapan dalam berbicara di hadapan publik dan kecekatan dalam bersikap. Tak hanya itu, menjadi pemimpin yang amanah dan adil merupakan dambaan setiap rakyat. Karena akan memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan sepenuh hati.
Pemimpin dalam sebuah instansi, lembags dll perlu memiliki humas yang bertugas membangun citra positif instansi untuk menyebarkan program-program strategis. Namun, tetap perlu kecekatan menginformasikan kebijakan kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalahan informasi. Hasilnya, dapat diterima dan dipatuhi oleh masyarakat dan berujung pada tingkat kepercayaan yang tinggi.
Namun keterbukaan pemimpin terhadap kebijakan yang telah disepakati itu belum tentu membuat bahagia dan sejahtera rskyat.
Banyak ditemukan kebijakan pemimpin yang belum tuntad menyelesaikan persoalan utama masyarakat seperti kemiskinan, perundungan pada anak, perzinahan, banjir, dan sebagainya. Tentu, perlu dibenahi kembali kebijakan yang ada, atau bahkan diperbaharui, dengan melibatkan aspirasi masyarakat di dalamnya.
Layanan Publik belum Maksimal
Penghargaan yang diterima sebuah instansi tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi wilayahnya.
Era digitalasasi telah menjadikan setiap wilayah harus terbuka kepada masyarakat perihal kebijakan yang telah diputuskan. Sehingga, rakyat dapat berperan aktif memberikan aspirasi baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Sayangnya, itu semua tidak terjadi pada aturan demokrasi. Buktinya, masih banyak pemimpin dan atau pejabat yang terlibat kasus korupsi. Masih banyak pula ditemukan kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat seperti biaya kesehatan dan pendidikan yang mahal, pergaulan bebas yang merajalela. Semua itu belum terselesaikan dengan tuntas, walaupun sudah ada undang-undang.
Belum lagi, kasus LGBT yang menghantui generasi. Ini diakibatkan adanya pola asuh yang salah dari keluarganya, misalkan orangtua yang tidak memperhatikan kondisi anaknya. Seperti acuh tak acuh, tidak memperdulikan pergaulan dengan teman-temannya.
Di sinilah letak kelalaian seorang pemimpin dalam upaya melayani rakyatnya. Walaupun ada keterbukaan dari sisi kebijakan atau anggaran, tetapi belum menyejahterakan rakyat. Layanan publik belumlah maksimal, sehingga masih banyak tugas yang diselesaikan.
Pelayanan maksimal tidak akan pernah terjadi bila mengacu pada aturan buatan manusia. Hal ini terbukti dan telah melahirkan penguasa yang bermasalah banyaknya. Padahal, manusia memiliki keterbatasan dan merupakan tempat salah dan khilaf.
Maka, salah satu indikator pemimpin yang baik ialah tata kelola pemerintahan yang bersih, memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat mengakses pelayanan publik, serta memenuhi kebutuhan pokok mereka. Bukan sebaliknya, menyusahkan dan membebani rakyat dengan berbagai kebijakan. Keterbukaan itu perlu tapi bukan hanya keterbukaan semata kepada rakyat.
Tak hanya itu, pemimpin tidak diperkenankan berlaku curang, tidak jujur, dan khianat. Apalagi hanya memuaskan hatinya sendiri dengan mengorbankan kepentingan rakyat untuk memenuhi hasrat para kapitalis. Inilah yang menjadikan pemimpin menjadi tidak amanah dan tidak adil.
Pemimpin yang Adil dan Amanah
Dalam Islam, kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijaga, sebab akan ada pertanggung -jawaban besar menanti kelak. Amanah kepemimpinan bisa jadi anugerah dan tempat meraih pahala ketika ditunaikan dengan sungguh-sungguh. Namun sebaliknya, bisa jadi musibah dan tempat mendulang dosa ketika dilaksanakan dengan asal-asalan.
Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Islam mengajarkan hakikat dari seorang pemimpin. Dia haruslah orang yang pertama kali melayani rakyatnya dalam semua perkara, terutama pemenuhan kebutuhan mendasar. Pemimpin tidak boleh mempersulit tetapi sebaliknya, harus memudahkan dalam distribusi.
Seperti, sosok Umar bin Khaththab yang tegas, tetapi lemah lembut tatkala mendengarkan keluh kesah dan kritik rakyat atas dirinya. Rakyat akan merasa puas jika pemimpinnya amanah memerintah berdasarkan syariat Islam.
Inilah, aturan Islam yang tidak pernah kehabisan melahirkan pemimpin amanah. Karena hanya dengan sistem Islamlah kepemimpinan amanah dan adil dapat terwujud. Wallahu’alam bishshawab.[]
Comment