Penulis: Yuslinawati | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Laman kompas.com (22/3/2024) menulis, kekerasan dalam rumah tangga kembali terjadi. Tragedi kali ini menimpa rumah tangga seorang perwira Brimob yang berinisial MRF sekaligus pelaku atas tindak kekerasan tersebut
Namun saat ini MRF telah dipecat secara tidak hormat dari kesatuan atas tindakan penganiayaan yang ia lakukan terhadap istrinya sendiri yang berisinial RFB.
Kekerasan yang dialami korban berlangsung sejak tahun 2020 hingga akhirnya pada 3 Juli tahun 2023 itu adalah kekerasan yang paling berat.
Melalui kuasa hukum korban yaitu Renna A. Zulhasril melaporkan ke kepolisian (Polres) Metro Depok. MRF pun kini telah di tahan di rutan kejaksaan Cilidog, 14 Desember 2023. Dari kekerasan tersebut korban mengalami luka fisik hingga psikologis terganggu.
“Luka-luka yang ada pada korban yaitu memar daerah wajah, dada dan punggung serta lecet pada kepala dan tangan” jelas kepala seksi intelijen kejaksaan Negri Depok. M.Arif Ubaidillah Kamis (21/03/2023).
Korban juga mengalami pendarahan dan keguguran.” Tuturnya kembali.
Beginilah fenomena yang terlihat saat ini bahkan orang orang yang seharusnya menjadi pelindung dalam keluarga justru menjadi penjahat yang setiap saat bisa saja melukai penghuni yang ada di dalamnya.
Belum lagi hukum yang dibuat oleh akal manusia tidak menjadikan para pelaku kekerasan ini jera atas perbuatannya dan tidak pula membuat orang lain takut untuk melakukan hal yang sama pula.
Sekulerisme tidak dapat menjadikan suami sebagai pemimpin yang baik untuk istri dan keluarga. Jika kita cermati lebih dalam para pemuda yang lahir dalam sistem sekulerisme adalah pemuda yang hanya mengedepankan hawa nafsu saja – tidak perduli dengan apa yang ia lakukan baik atau buruk, yang penting dapat melampiaskan keinginan dan egoisme. Karena sistem yang ada tidak menjadikan dirinya terikat dengan hukum Syara’ sehingga yang dominan dalam sikap adalah nafsu semata.
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak adalah bentuk kepemimpinan dalam skala kecil. Suami sebagai pemimpin sejatinya mampu menjadi pelindung, pengayom, pendidik. Ia adalah orang satu satunya menjadi tempat ternyaman bagi anak dan istrinya.
Namun sayangnya semua itu tidak mungkin terwujud jika sistem sekulerisme masih saja diagung agungkan dan akan semakin membuka peluang bagi orang orang yang dangkal pemikirannya untuk melakukan perbuatan perbuatan maksiat seperti kdrt dan lain sebagainya.
Suami bertanggung jawab atas istri dan anaknya
Allah SWT berfirman yang artinya ” Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari apai neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan(Q$ At-Tahrim:6)
Tanggung jawab seorang suami begitu besar ia harus mengupayakan agar diri dan keluarga terhindar dari siksa neraka dengan memberikan pendidikan agama yang benar terhadap anak dan istrinya.
Memberikan sepenuhnya kepada anak dan istrinya kasih sayang dan perhatian agar anggota yang ada dalam keluarga merasa nyaman dengan kehadirannya saat mereka bersama
Berusaha memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin agar orang yang di bawah kepemimpinan mendapatkan haknya, bersikap baik terhadap istri dan anak anaknya sebagaiman sabda Rasulullah Saw “sebaik-baik kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR Ibnu Majah).
Begitu juga dengan istri, ia harus sepenuhnya patuh dan taat pada suaminya dengan kepatuhan terhadap syari’atNya agar rumah tangga yang dibangun selalu mendapatkan keberkahan dan keridhoan dari Allah SWT.
Jika kewajiban tiap-tiap diri dalam keluarga telah dipenuhi maka dengan sendirinya keluarga akan mendapatkan hak masing-masing sehingga kekerasan dalam rumah tangga terhadap istri dan anak tidak mungkin terjadi. Karena kelusrga yang didasari keimanan dalam menjalankan amanah akan menjadi lebih mudah karena hanya mencari ridho Allah SWT semata. Wallahu a’lam bishawab.[]
Comment