Oleh: Unie Khansa, Praktisi Pendidikan
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Pepatah mengatakan seorang ibu sanggup mengurus dan membesarkan sepuluh orang anak, tetapi sepuluh orang anak tidak sanggup mengurus seorang ibu. Tentu hal ini tidak serta merta ada. Hal ini berdasarkan fakta yang sekarang terjadi di masyarakat.
Ketika seorang ibu atau ayah atau orang tua membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, yang tergambar dan terbayang dalam benak mereka adalah anak-anaknya tumbuh sehat dan bahagia. Tidak pernah terpikirkan kelelahan atau biaya yang harus dikeluarkan untuk mengurus dan membesarkan anak-anaknya. Ukuran mereka dalam membesarkan anak-anaknya adalah kasih sayang dan kebahagiaan. Tetapi bagaimana dengan anak yang mengurus orang tuanya yang sudah lanjut usia?
Betapa sering kita dengar bahkan menyaksikan sendiri bagaimana seorang ibu atau ayah yang terlantar karena kelalaian atau ketidaksanggupan anak merawat orang tuanya. Berbagai alasan dikemukakan sang anak sehingga mereka menelantarkan atau dengan tega menitipkan orang tuanya di panti jompo. Yang pada intinya semua alasan bermuara pada satu kata yaitu uang kapital.
Salah satu contohnya adalah Trimah seorang ibu berusia 65 tahun yang dititipkan di panti jompo Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, Jawa Timur. Beliau dititipkan di panti jompo karena anaknya tidak sanggup membiayainya. (Viva.co.id, 31 Oktober 2021).
Kisah yang lebih miris lagi, seorang pria lansia meninggal di salah satu lokasi dalam wilayah Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Menurut Koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKSK) Dinsos Aceh, Misra Yana SPsi MSi, pria lansia tersebut sehari sebelumnya dibuang oleh anaknya. Hal ini menurut pengakuan pria lansia tersebut sebelum dia meninggal dunia. (Serambinews.com, 31/10/ 2021).
Hal seperti itu adalah buah dari sistem kapitalisme. Pola pikir kapitalis telah merasuki dan merusak jiwa anak sehingga tidak ada lagi kasih sayang seorang anak terhadap orang tua yang harus dirawatnya. Semua diperhitungkan dengan uang dan uang.
Kesalahan ini tidak bisa sepenuhnya ditimpakan pada anak. Beberapa hal menjadi penyebab anak berlaku demikian terhadap orang tuanya. Tekanan ekonomi yang menghimpit kerap menjadi alasan utama. Kesalahan pola pendidikan yang diterimanya di sekolah-sekolah umum juga memberikan andil dalam terciptanya keadaan ini.
Di sekolah-sekolah diutamakan pendidikan bagaimana mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, jarang sekali ditanamkan pendidikan akhlak/adab, apa lagi adab kepada orang tua.
Mengapa hal ini terjadi?
Karena negara dengan sistem kapitalisme tidak sanggup meriayah rakyat dengan semestinya. Negara jor-joran mengadakan pembangunan hanya untuk keuntungan segelintir orang pemilik modal, para kapitalis. Sementara rakyat banyak, untuk menikmati hasil pembangunan itu harus mengeluarkan isi kantong yang lumayan. Padahal, untuk makan saja rakyat sudah kesulitan. Rakyat kecil harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Saat ini, fasilitas yang memenuhi hajat hidup orang banyak semuanya dikenakan beaya. Untuk sekedar mendapatkan air bersih saja harus mengeluarkan uang. Padahal, seharusnya gratis karena air merupakan satu hal yang memenuhi hajat hidup orang banyak.
Keadaan seperti inilah yang melahirkan anak-anak yang tidak lagi sayang pada orang tuanya, anak durhaka yang mati fitrah karena tiadanya pemahaman tentang memuliakan orang tua dan akibat kerasnya tekanan hidup.
Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan sistem khilafah yang menerapkan Islam kaffah. Dalam sistem Islam, semua yang memenuhi hajat hidup orang banyak adalah milik umum sehingga semua bisa memanfaatkannya.
Segala yang diupayakan oleh negara semuanya ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, rakyat hidupnya sejahtera tidak terhimpit dengan kesusahan ekonomi. Semuanya diukur dengan kasih sayang. Negara menyayangi rakyatnya. Rakyat menyayangi pemimpin negaranya serta saling menyayangi di antara rakyat sendiri.
Dalam Islam, menghormati orang tua sangat diutamakan. Bagaimana Islam mengajarkan cara merawat orang tua yang sudah lanjut usia. Hal ini tercantum dalam Qur’an Surah Al-Isra ayat 23-24:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS: Al-Isra ayat 23-24).
Selain itu, banyak hadis yang mengemukakan tentang mengutamakan orang tua. Di antaranya:
“Rida Allah itu tergantung rida kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orangtua.” (HR. Tirmidzi).
“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” (HR. Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346)
Dengan demikian, dalam pemerintahan Islam orang tua sangat dimuliakan. Karenanya, tidak akan terjadi anak yang membuang orang tuanya ke jalanan atau ke panti jompo.Wallahu a’lam bishshawwab.[]
Comment