Kemerdekaan Dan Belenggu Hawa Nafsu

Opini718 Views

 

Oleh: Hariza Masniary Gultom, Aktivis Muslimah

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Merdeka adalah teriakan euforia yang selalu semarak di saat memperingati HUT RI. Tidak hanya itu, meriahnya perlombaan-perlombaan yang diadakan dengan berbagai macam cara, mulai dari panjat pinang, lomba makan kerupuk hingga lari goni, seolah sudah menjadi tradisi yang kerap kali dilakukan oleh masyarakat indonesia.

HUT RI yang Ke-76 tahun ini mengusung tema ‘Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh’. Bisa kita lihat ada pesan optimisme di balik tema tersebut.
Maksudnya adalah “Indonesia Tangguh menghadapi berbagai krisis yang selama ini menimpa,” kata Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono seperti dikutip detiknews, Kamis (17/6/2021).

Seperti halnya kita ketahui, sudah berbagai macam krisis yang telah datang menerpa negeri Indonesia ini, mulai dari krisis 1998 hingga yang sekarang sedang melanda yaitu pandemi COVID-19.

Namun Indonesia harus tetap tumbuh dan bangkit, begitulah selogan pemerintah meskipun kondisi masyarakat masih sangat berat dalam banyak hal, terutama ekonomi.

Kemerdekaan Hakiki
Sejarah mencatat keberadaan imperium Persia dengan jutaan kilo meter wilayah kekuasaan namun sangat zalim kepada rakyatnya.

Di penghujung kekuasaannya, berbagai pajak dimunculkan sampai tahap mencekik sementara pejabatnya hidup mewah dan hukum tak ditegakkan sehingga kejahatan merajalela.

Walau menganggap dirinya merdeka, Persia menganggap Arab adalah negeri jajahan mereka, dan merasa terganggu dengan kekuatan baru yang muncul, yaitu Islam.

Mereka pun membuat front dengan Madinah yang saat itu dipimpin oleh pengganti Rasulullah Muhammad, Khalifah Umar dan singa-singa Allah disekelilingnya.

Dalam peperangan Qadisiyah, salah satu komandan Muslim, Rib’i bin Amir, pernah diundang oleh Rustum panglima Persia, yang ingin mengetahui motif kaum Muslim.

Maka inilah jawaban Rib’i bin Amir yang sangat tersohor.

“Allah telah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezaliman kepada keadilan Islam.

Inilah makna kemerdekaan yang sesungguhnya, yang dipegang oleh pasukan Muslim di kala itu, dari panglima tertingginya Saad bin Abi Waqqash hingga Rib’i bin Amir.

Sebab selama seseorang masih tunduk pada selain Allah, masih sibuk dengan maksiat pada Allah, sejatinya dia sedang terbelenggu nafsu dan jauh dari merdeka.

Sebab nafsu punya banyak wajah, bisa jadi ia terwujud dalam penjajahan fisik, bisa jadi pula dalam bentuk penjajahan pikiran, penjajahan ekonomi atau bahkan budaya.

Semua penjajahan apapun bentuknya, pada ujungnya pasti menyebabkan ketundukan pada sesama manusia, bukan pada Allah, ini yang sangat ditentang oleh Islam. Maka inilah kemerdekaan hakiki yang terus kita perjuangkan, sambil mensyukuri kemerdekaan fisik yang Allah beri kepada kita, yaitu mengajak manusia taat Allah.

Maka saat kita teriak “Merdeka!”, jangan lupa syahadat, shalat, zakat, puasa, haji, dan segala bentuk ketaatan yang lain. Sebab bila masih maksiat, sejatinya kita masih terjajah. (Youtube Felix Siauw, “Kemerdekaan Hakiki” 17/08/2017)

Comment