Heidy Sofiyantri: Hilangnya Peran Ayah Dalam Sistem Sekuler

Berita463 Views
Heidy Sofiyantri
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Selain ibu ada seseorang yang paling bahagia ketika bayi mungil itu lahir yaitu ayah. Ayah adalah pahlawan, panutan, pemimpin, dan juga lelaki pertama yang ditemui gadis kecil dalam hidupnya. 
Anak perempuan akan mengagumi sang ayah atas segala hal dan juga  menjadi pelindung bagi anak perempuannya. Tetapi, apa yang terjadi saat ini,sosok ayah tak lagi menjadi pelindung bagi anak perempuannya,tetapi menjadi perusak dan penghancur masa depan putri kecilnya. 
Tingkah laku ayah kandung ini tidak patut di contoh. Sumarso (44),warga Blimbing Sari, Banyuwangi, tega memperkosa anak kandungnya yang masih di bawah umur. (detik.news)
Seorang ayah yang tinggal di kecamatan Pilar Tiga Bangka, tega memperkosa anak kandungnya yang berusia 16 tahun. Parahnya, hal ini sudah dilakukan selama tiga kali dan korban juga sudah bersuami. (detik. news). 
Pria di Jember perkosa anak kandungnya, seorang anak perempuan berusia 10 tahun. Perkosaan terungkap saat ibu korban mendapati anak perempuan nya mengalami pendarahan. (Tribunjatim.com)
Itu hanya sebagian kejadian atau fakta saja, masih banyak lagi kebejatan yang dilakukan oleh sang ayah kepada putrinya.  Mengapa semua bisa terjadi?  Ayah yang seharusnya menjadi teladan yang baik, memenuhi hak anak, berhati lembut, hilang sudah sosok tersebut. 
Pemisahan agama dari kehidupan membuat seseorang hanya menjadikan agama sebagai ritual ibadah saja tanpa mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Lemahnya iman seorang ayah bisa mempengaruhi tingkah lakunya yang memang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang ayah pada putri nya. Ke ilmuan yang kurang yang dimiliki ayah juga bisa mempengaruhi perannya sebagai seorang ayah,yaitu menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab. 
Sekulerisme juga menjadikan seseorang tak lagi bersandar pada hukum-hukum islam, tidak lagi memandang halal dan haram ketika melakukan suatu perbuatan. 
Hilangnya peran ayah juga karena ayah selalu disibukan dengan urusan mencari nafkah tanpa peduli dengan kewajiban yang lain yaitu mendidik anak. Dilenakan oleh kesenangan dan juga hiburan yang dapat melupakan tujuan utama penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah. 
Keberadaan ayah hanya bentuk fisik saja, tanpa ada peran yang penting dalam kehidupan rumah tangga, misalnya banyak seorang suami yang malas bekerja atau memang tidak bekerja karena sulitnya lapangan pekerjaan , sehingga beban nafkah di tanggung oleh istri. Dalam hal ini peran negara yang berkewajiban dalam menyediakan lapangan pekerjaan. 
Ayah tidak hanya cukup dengan memberikan nafkah saja, memberi hadiah, perhatian atau sekedar nama. Ayah adalah pemimpin dan orang yang paling disegani oleh anggota keluarga. Ayah sebagai figur utama yang memiliki peran penting bagi anak-anaknya. 
Dalam Al quran dikisahkan bagaimana ayah mendidik anaknya,seperti kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Yaqub dalam surat Al baqoroh ayat 132-133,Quran surat Luqman ayat 12-19.
Maka beda hal nya dengan Luqman sebagai hamba yang shalih, Allah memberikan kepadanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al quran, yaitu QS. Luqman ayat 13. Bahkan untuk pendidikan anak perempuan sekalipun, hendaknya seorang ayah tidak melemparkan tanggung jawab kepada sang istri. 
Ayah memiliki peran penting dalam mendidik anak dimulai dari masa kelahiran, pertumbuhan hingga beranjak dewasa. Memberikan pembelajaran kepada anaknya kapan saja, terutama mengajari perkara agama. Maka menjadi suatu keharusan bagi seorang ayah untuk mengetahui permasalahan agama, paham halal dan haram, prinsip-prinsip akhlak, dan kaidah-kaidah syariat. 
Ayah sebagai penanggung jawab terbesar dalam rumah tangga, berkewajiban mendidik keluarga serta putra putrinya untuk mentaati Allah, berkewajiban menumbuh kembangkan semua anggota keluarga berdasarkan asas ketaatan kepada Allah SWT. Wallahu alam bi showab.[]

Comment