Oleh : Anna Ummu Maryam, Pegiat Literasi dan Pemerhati Publik
_________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA— Satu bulan setelah gempa bumi berkekuatan 5,6 mengguncang Cianjur, Jawa Barat, sejumlah warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian, menanti kepastian untuk memulai kehidupan normal seperti dulu.
Di Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, masih ada warga yang belum menerima dana stimulan perbaikan rumah karena proses pendataan yang tidak akurat dan harus diulang.
Selain itu, sebagai salah satu desa yang disebut dilalui patahan sesar aktif Cugenang, warga juga masih menanti kepastian apakah mereka akan terdampak relokasi atau tidak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) seperti ditulis BBC.News.Indonesia (22/12/2022) mengatakan, lebih 8.300 warga telah menerima dana stimulan tahap pertama untuk membenahi rumah mereka.
Musibah demi musibah terus menghampiri negeri ini seolah ingin memberikan peringatan kepada manusia bahwa Penguasa sebenarnya adalah Allah SWT terhadap alam semesta ini. Bencana ini hendaknya mengingatkan hambaNya bahwa segala kesombongan dan keserakahan manusia akan berakhir pada kesia-siaan.
635 adalah jumlah korban yang tewas selam gempa tersebut. Kesedihan dan gelisah masih terlihat jelas di raut wajah mereka. Bagaimana tidak hingga hari ini mereka harus bertahan di tenda tenda pengungsian sementara hal tersebut tentulah bukan keadaan yang mereka inginkan.
Mereka Butuh Kepastian
Hal inilah yang membuat mereka masih bertahan di tenda – tenda mereka. Sebab mereka ingin kepastian bagaimana kondisi mereka agar dapat menimalisir gejala gempa berikutnya. Selain itu mereka juga butuh kepastian dari pemerintah tempat tinggal mereka apakah direlokasi sehingga mereka dapat membangun kembali kehidupan normal.
Namun hingga hari ini belum ada kepastian bagaimana kondisi mereka, minimnya informasi menyebabkan hidup mereka terkatung-katung di tenda tersebut. Selain itu kebutuhan sehari – hari juga kian memprihatinkan mulai dari kebutuhan pokok hingga kesehatan. Mereka kini telah diserang oleh penyakit demam, gatal -gatal dan batuk.
Kondisi mereka kian miris di mana sebelumnya, pemerintah menjanjikan dana bantuan sebesar Rp60 juta untuk rumah rusak berat, Rp30 juta untuk rumah rusak sedang, dan Rp15 juta untuk rumah rusak ringan.
Namun pada proses verifikasi sebelumnya, ditemukan data yang tidak sesuai dengan kondisi riil rumah yang rusak. Oleh sebab itu, masyarakat pun meminta dilakukan verifikasi ulang.
Negara sebagai pelayan masyarakat tentulah harus lebih memperhatikan kondisi rakyatnya. Karena ini bukan berbicara individu namun kehidupan hajat masyarakat yang sejatinya memang sangat butuh untuk diperhatikan dan diselesaikan. Mereka sangat berharap pemerintah lebih serius dalam menyelesaikan masalah bencana yang menimpa warga Cibeureum ini.
Keseriusan dalam menyelesaikan masalah ini adalah bentuk dari keberadaan Negara sebagai pengayom dan pelaksana demi normalisasi kondisi dan kebutuhan warga kembali dapat dipenuhi. Karena sejatinya tidak ada masyarakat yang mau berlama-lama dalam kondisi seperti ini.
Namun, kita tidak bisa berharap banyak terhadap sistem kspitalis ini. Karena yang lebih peduli justru dari kalangan swasta yang sejatinya kita tidak tahu kepentingan apa yang mereka inginkan sehingga terkesan mereka lebih peduli. Hal lain yang menjadi catalan adalah bahwa kapitalisme memandulksn peran negara.
Islam Adalah Kebutuhan
Islam sebagai sebuah agama yang tinggi dan sempurna sejatinya memang hadir untuk seluruh manusia. Kesempurnaan itu terlihat dari pengaturan tentang diri, masyarakat dan Negara. Dalam Islam Negara adalah pelayan rakyat dan penanggung jawab terlaksanakan aturan Allah SWT di muka bumi.
Islam menghadirkan negara untuk menyelesaikan setiap masalah yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Kesejahteraan dalam pandangan Islam diukur dari terpenuhinya segala kebutuhan setiap individu. Dengan begitu kondisi ekonomi dan lainnya dapat kembali normal dan pencapaian akan bisa dilakukan jika kesejahteraan rakyat itu terjamin.
Dalam Islam, pelayanan dan pemenuhan kebutuhan rakyat adalah hal penting yang diutamakan. Maka wajar saja bila kemakmuran dan kesejahteraan begitu dirasakan pada masa Rasulullah Saw menjadi seorang kepala Negara dan dilanjutkan para Khalifah setelahnya. Seorang pun, tidak ada rakyat yang terzalimi.[]
Comment