RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Virus COVID-19 nampaknya belum juga menunjukan tanda-tanda berakhirnya. Pada awalnya virus ini hanya menyerang lansia dan orang-orang yang memiliki penyakit bawaan, namun seiring waktu, penderitanya pun kini beragam usia, bukan hanya yang tua tetapi juga menyerang yang muda, bahkan anak-anak sampai bayi pun bisa terpapar virus COVID-19.
Hal tersebut membuat dunia sedang serius mencari obat atau vaksin untuk mengatasi wabah virus COVID-19. Begitu juga di Indonesia, anak bangsa sedang berlomba mencari obat yang bisa menyembuhkan virus COVID-19.
Akan tetapi pencarian obat atau vaksin ini tidak boleh hanya sebatas klaim semata tanpa didukung oleh uji klinik, sebab hal tersebut menyangkut keselamatan nyawa manusia.
Baru-baru ini publik kembali dikejutkan dengan adanya klaim obat virus COVID-19, oleh Hadi Pranoto yang diwawancarai salah satu musisi Indonesia yaitu Erdian Aji Prihartanto atau akrab disapa dengan panggilan Anji.
Ali-alih mendapat sambutan baik dengan klaimnya menemukan obat virus COVID-19, Hadi justru banyak mendapat kecaman dari berbagai pihak dunia kesehatan.
Dilansir dari detik.com (2/8/2020), dalam wawancara di channel youtube Anji, Hadi Pranoto mengaku sebagai professor ahli mikrobiologi yang mengklaim dirinya telah menemukan antibodi COVID-19 sebagai obat yang bisa menyembuhkan dan mencegah COVID-19.
Masih di laman yang sama, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr. Slamet Budiarto mengecam klaim Hadi Pranoto tersebut. IDI menegaskan klaim tersebut membahayakan.
Obat tidak bisa disembarang klaim karena harus melalui uji klinik sebagaimana vaksin, dr. Slamet juga mempertanyakan Hadi, uji klinik klaim obatnya di mana?
“Kecuali kalau herbal kan cuma suplemen, nggak ada masalah. Tapi kalau dia sudah ngomong obat, itu ngak boleh, karena obat itu harus diuji klinik” Ujar dr. Slamet.
Hadi Pranoto juga katanya telah medistribusikan klaim cairan antibodi COVID-19 tersebut ke Pulau Jawa, Bali, dan Kalimantan, bahkan telah diberikan kepada ribuan pasien di Wisma Atlet dengan lama penyembuhan 2-3 hari (Kompas.com, 2/8/2020).
Hal tersebut akhirnya membuat Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito pun turut menanggapi perihal klaim obat COVID-19. Wiku mengatakan bahwa di Indonesia telah diatur tentang produk herbal berupa jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.
Bahkan saat ditemui tim kompas.com, Minggu (2/8/2020), Wiku mengatakan “Silakan cek produk yang diklaim oleh Hadi Pranoto apakah sudah terdaftar di BPOM atau Kementrian Kesehatan.”
Jika herbal tersebut masih dalam tahap penelitian dan belum ada bukti ilmiah tentang keamanan dan efektivitasnya, Wiku mengatakan, tidak boleh dikonsumsi oleh masyarakat.
Ada Apa dengan Klaim Vaksin Virus COVID-19 ?
Sebenarnya munculnya orang-orang yang mengklaim menemukan obat untuk menyembuhkan virus COVID-19 tidak datang hanya dari Hadi Pranoto. Sebelumnya pun sempat viral.
Kementrian Pertanian (Kementan) yang menyatakan sedang mengembangkan kalung anti virus COVID-19 yang diklaim mampu membunuh virus, hal tersebut juga menuai kontroversi pada berbagai pihak.
Inilah buah dari sistem kapitalisme yang mana setiap kesempatan akan digunakan demi untuk meraup keuntungan semata tanpa memikirkan kemaslahatan dan keselamatan umat, sebab penelitian vaksin mestinya dilakukan oleh para ahli dalam bidang tersebut, sehingga tidak hanya sebatas klaim semata.
Beragamnya klaim dari sejumlah pihak mengenai vaksin virus COVID-19 bisa dinilai bahwa pemerintah masih lamban dalam menangani masalah wabah ini. Bahkan fenomena ini pun menggambarkan pemerintah sepertinya belum mampu dalam meyakinkan publik terhadap bahaya dari virus COVID-19 ini.
Akibatnya sejumlah warga menganggap virus COVID-19 tidak berbahaya, akhirnya banyak masyarakat mengabaikan protokol kesehatan. Disamping itu juga perkataan Hadi Pranoto terkait pendeteksian virus COVID-19 pada seseorang begitu sangat mudah dan murah untuk dideteksi, hal ini terdengar begitu gampang dan tak perlu khawatir akan baiaya yang mahal.
Seperti yang dikutip dari laman detik.com (2/8/2020), Hadi Pranoto diwawancarai oleh Anji, mengatakan bahwa digital tekhnologi mampu untuk mendeteksi virus COVID-19 sudah bisa dengan seharga 10-20 ribu, tanpa harus menggunakan swab test yang harganya sampai ratusan ribu.
Sampai kapan negeri ini hanya menghasilkan klaim semata ? Sudah saatnya pemerintah lebih serius lagi dalam mengatasi masalah wabah ini, mengkerahkan sejumlah pakar untuk meneliti dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak ada lagi asal klaim terhadap obat virus COVID-19 yang justru akan membingungkan umat.
*Islam Syamil dan Kamil*
Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna), sehingga tidak ada satu masalah pun yang tidak bisa diselesaikan melainkan hanya dengan Islam semata. Wabah misalnya, tentu islam memiliki solusinya.
Pada dasarnya wabah tentu bukan hanya terjadi pada saat ini, namun jauh sebelumnya sudah pernah terjadi pada masa Rasulullah dan para sahabat. Saat itu negeri kaum muslim terkena wabah tha’un (sejenis wabah penyakit kolera).
Pada masa Umar bin Khatab, wabah tha’un pernah terjadi di wilayah Syam, dan pada saat itu Umar bin Khatab sedang melakukan perjalanan menuju Syam. Kisah ini diceritakan dalam hadist riwayat Muslim berikut :
“Dari Abdullah bin Amir bin Rabi’ah, “Suatu ketika Umar bin Khattab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, dia mendengar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Maka Abdurrahman bin’Auf mengabarkan kepada Umar bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya.” Maka Umar pun Kembali dari Saragh.”(HR. Muslim No 4115).
Tidak hanya itu, khalifah Umar bin Khattab juga berdiskusi bersama para pakar yang memiliki ilmu terkait wabah. Amr bin Ash adalah orang yang dikenal cerdas dalam mencari solusi untuk masalah-masalah yang rumit. Amr bin Ash melakukan analisis sehingga menyimpulkan bahwa wabah tha’un ini bisa menular ketika orang-orang berkerumun.
Akhirnya solusi yang diberikan oleh Amr bin Ash adalah dengan mengkarantina atau memisahkan rakyat/umat, mereka dilarang untuk berkerumun. Walhasil wabah tha’un bisa terselesaikan dan lenyap dari negeri kaum muslim.
Negara Islam yakni khilafah juga memberikan dukungan penuh terhadap para pakar dan intelektual di bidang kesehatan khususnya virologi molekuler, dalam melakukan penelitian agar segera menemukan vaksin untuk wabah.
Negara akan membiayai keperluan dalam penelitian tersebut, seperti pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam penelitian, misalnya pengadaan laboratorium yang memadai juga pengadaan peralatan yang dibutuhkan para pakar dalam penelitian.
Bahkan para pakar akan diberikan penghargaan berupa gaji yang besar karena sudah berupaya keras dalam meneliti vaksin untuk mengatasi wabah.
Pembiayaan tersebut tentu berasal dari keuangan negera, yang didapat melalui pengelolaan sumber daya alam yang sifatnya sebagai kepemilikan umum, dan hasilnya akan masuk ke dalam kepemilikan umum baitul mal, pendanaan untuk kegiatan meneliti vaksin tersebut juga akan diambil dari pos fai (harta yang diperoleh dari musuh tanpa peperangan) dan kharaj (hak kaum muslim atas tanah dari orang kafir baik dengan perang atau tidak).
Dalam kitab sistem keuangan negara khilafah yang disusun oleh Abdul Qadim Zallum (hlm. 26-27), menjelaskan bahwa pendapatan negara ada dua yaitu, yang pertama bagian fai dan kharaj, dan yang kedua bagian pemilikan umum, dimana harta tersebut akan digunakan untuk kemaslahatan umat.
Begitulah kiranya kemuliaan Islam dalam mengatasi masalah wabah tanpa harus menunggu ada klaim dari rakyat, justru negara yang akan memacu pakar-pakar yang ahli dalam bidang tersebut agar segera meneliti untuk menemukan vaksin yang bisa mengobati orang-orang yang terkena wabah.
Maka mengapa kita mengambilnya sebagai solusi wabah saat ini. Wallahu’alam bishawab.[]
*Aktivis Muslimah Papua
Comment