Efisiensi Anggaran Pendidikan, Masa Depan Anak Bangsa Jadi Taruhan?

Opini255 Views

 

Penulis: Isnaini, S.I.Kom | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Sektor pendidikan jadi korban efisiensi anggaran yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Tercatat pada Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemenditisaintek) dipotong Rp 22,5 triliun dan pada Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dipotong Rp 8 triliun.

Dikutip dari narasinewsroom, pagu anggaran untuk kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi awalnya ialah Rp57,6 triliun yang telah dipangkas sebanyak 39 persen dan tersisa Rp 35,1 triliun. Sementara Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah, awalnya pagu anggaran Kemendikdasmen ialah Rp 33,5 triliun kini, tersisa Rp 25,5 triliun.

Salah satu pos belanja yang masuk daftar pemotongan pada kemendikdasmen adalah infrastruktur dengan kisaran potongan sebanyak (59,1 %). Sementara salah satu pos belanja yang masuk daftar pemotongan pada Kemenditisaintek adalah program riset yang dipotong sebanyak 20 persen. Pemotongan tersebut diambil dari agenda agenda perjalanan dinas, rapat dan koordinasi.

Akibatnya, pemotongan ini dikhawatirkan akan mengurangi kualitas pendidikan. Padahal dengan adanya anggaran pendidikan yang sebelumnya saja, masalah Pendidikan belum bisa dituntaskan seperti fasilitas tidak merata, kesejahteraan guru hingga kekurangan dana.

Menurut Kajian Programme for International Student Assessment (PISA), mendapati kemampuan matematika, sains dan membaca usia 15 tahun di Indonesia mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya anggaran pendidikan Indonesia yakni hanya sekitar 19.700 USD pertahun.

Per 12 Februari lalu Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan kemungkinan akan ada kenaikan uang kuliah imbas efesiensi anggaran pemerintah. Di antaranya anggaran Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) yang mengalami efesiensi 50 persen dari pagu awal sejumlah Rp 6,018 triliun.

Pemotongan Anggaran Pendidikan secara signifikan akan berdampak besar pada kualitas pendidikan, yang semestinya pendidikan dapat menjadi pemutus rantai kemiskinan. Pendidikan adalah kunci mencerdaskan anak bangsa yang juga akan menentukan kualitas sumber daya manusia.

Gagasan Prabowo untuk memangkas anggaran pendidikan tak terlepas dari adanya benang kusut sistem peraturan negara. Jikalau memang sejak awal pemangkasan anggaran bertujuan untuk efesiensi, lantas mengapa presiden membentuk kabinet gemuk yang pasti akan menyedot banyak anggaran negara bahkan menambah dan melantik stafsus presiden yang baru.

Fakta pemangkasan anggaran tersebut jika dikomparasikan dengan pemetaan postur anggaran di dalam Islam sangatlah jauh berbeda. Islam telah mengharuskan penyelenggaraan dan pemeliharaan dana yang masuk ke negara agar sesuai pendistribusian yang berhak menerima serta sesuai pos belanjanya.

Aspek keuangan yang berkaitan dengan harta di dalam negara Islam, keberadaannya harus terikat dengan hukum syara’. Semua direalisasikan dengan tujuan mengakomodasikan peran negara sebagai pengurus dan pelindung rakyat.

Syekh Abdul Qadim Zallum rahimahullah di dalam kitab Al-Amwal fii Daulah al-Khilafah (Sistem Keuangan Negara Khilafah) memerinci harta dalam negara Khilafah, baik dari sumber pendapatannya, jenis-jenisnya, jenis harta yang dapat diambil dan pihak-pihak yang menjadi sasaran pengambilan harta tersebut, waktu-waktu pemberiannya, cara perolehannya, pos-pos yang mengatur dan memeliharanya, serta pihak-pihak yang berhak menerimanya dan membelanjakannya.

Tidak boleh dipungut harta satu dinar pun kecuali harus sesuai dengan hukum syariat, juga tidak boleh dibelanjakan satu dinar pun kecuali harus sesuai dengan hukum syariat. Penguasa, pejabat, dan pegawai dalam negara juga dipilih dari orang-orang yang bertakwa, amanah, takut “menyentuh” harta milik rakyat, dan bekerja secara profesional. Ini dalam rangka mencegah terjadinya kebocoran anggaran.

Islam juga memandang pendidikan sebagai prioritas utama karena pendidikan merupakan kunci peradaban. Sebagaimana Islam menegaskan bahwa kualitas manusia berilmu tentu berbeda dengan manusia yang tidak berilmu.

Hal ini diungkap dalam firman Allah, “Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Az-zumar ayat 9).

Berdasarkan ayat di atas Allah menegaskan bahwa tidak akan sama orang yang memiliki ilmu dengan orang yang tidak memiliki ilmu. Sedangkan Ilmu hanya akan didapatkan dengan menempuh jalan pendidikan dan belajar.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengatakan, “orang yang belajar tapi tidak mengamalkan dapat 1 dosa sedangkan orang yang tidak mau belajar mendapat dua dosa, yaitu dosa tidak mau belajar dan dosa tidak mengamalkan kan”

Karena itulah, pentingnya sebuah pendidikan yang membuat manusia mulia. Hanya Islam yang mewajibkan pendidikan sebagai prioritas baik segi fasilitas maupun anggaran yang akan dibelanjakan sepenuhnya untuk Pendidikan tersebut.

Dengan demikian, Islam mampu menjawab seluruh tantangan yang dihadapi sistem saat ini, termasuk problematika pendidikan. Untuk itulah kita yakin dengan Islam pendidikan akan berjaya dan gemilang.[]

Comment