Langitku kembali kelabu
Tanah makam penuh jenazah
Tangis membuncah matapun sayu
Ranah baru di lahan basah
Mereka terasing di tengah sesama
Tak dapat pulang meski hari telah berganti asa
Jengah dan pilu menusuk dada
Berkata di rumah saja untuk kali ini saja
Dengarkan rintihan sang supir jenazah
Menyapa mereka melalui tetesan air mata
Gemericiknya hati tak lagi tenang atas sebuah kisah
Berharap akhir wabah usai di tengah puasa
Langitku kembali kelabu
Bumi pertiwi ditiduri manusia beratapkan langit
Penghidupan kian hari kian sempit
Tatkala ekonomi rakyat menjadi sulit
Gemerincing koin tak sanggup memenuhi diri
Hingga lapar pun harus membuatnya berlari
Dari satu sahur ke pembagian takjil
Sementara mental kian labil
Dengarkan perut rakyat yang menjerit kelam
Dan gunung yang menggertak sunyinya malam
Akankah dunia kan sadar gelapnya kehidupan
Dan terus bertahan dengan aturan buatan
Langit kelabu tak kembali putih
Di penghujung malam pecinta pedang berpesta tanpa beban
Tak takut corona kan menghadang
Yang penting syahwat terpuaskan
Bagaimana azab tak datang
Ketika zina dan liwath tak ditentang
Sedangkan tobat tak jua berlabuh di tiap insan
Akibat aturan tak ditegakkan
Jangan abai akan kisah ini
Seakan-akan kau kan pergi dari sini
Dengan sekoper uang demi hutang janji
Dan mencampakkan mereka seperti nasi basi
Otoritas negeri menghantui sepi
Masjid pun kosong bagai ilusi
Apakah ini hanya sekedar mimpi
Atau bencana yang merasuki negeri ?
Gubahan Islam bersenandung merdu
Menarik asa yang tenggelam dalam jubah pilu
Akankah semua berlalu
Jika kembali padaNya untuk menghiba syahdu
Comment