Bullying Bikin Resah, Saatnya Kembali Kepada Islam 

Opini208 Views

 

Penulis: Devy Rikasari, S.Pd | Anggota Komunitas Pena Dakwah Cikarang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Hati orang tua mana yang rela ketika buah hati yang selama ini diperlakukan bak raja, disayang dan dimanja tiba-tiba mengalami bullying (perundungan). Inilah yang dirasakan ibu korban perundungan di sebuah SMP di Cilacap yang sempat viral belakangan ini.

Video yang berdurasi empat menit memperlihatkan bagaimana korban dipukuli, ditendang sampai babak belur oleh teman sebayanya. Meski kini kedua pelaku telah diamankan, perilaku keduanya tetap tidak dapat dibenarkan.

Kasus bullying di negeri ini tidak main-main. Masih hangat di ingatan, kejadian mengenaskan yang menimpa seorang siswa SD di Tasikmalaya yang dipaksa oleh teman-temannya untuk bersetubuh dengan kucing. Peristiwa ini direkam oleh temannya dan viral. Korban mengalami depresi, tidak mau makan dan minum, hingga akhirnya wafat dalam perawatan di rumah sakit.

Menurut data KPAI tahun 2022 ada 226 kasus kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun psikis. Mirisnya lagi, hasil riset PISA (Program for International Student Assessment) tahun 2018 menyebut Indonesia menempati urutan ke-5 dari 78 negara sebagai negara dengan kasus bullying tertinggi di dunia.

Bullying terus terjadi dan memakan korban yang tidak sedikit. Angka-angka yang dimiliki berbagai lembaga perlindungan anak hanya memuat yang terlapor, sementara kasus yang tidak dilaporkan jauh lebih banyak lagi. Ironisnya, banyak dari kasus tersebut terjadi di lingkungan pendidikan, baik pelaku maupun korban masih berstatus pelajar. Ada apa gerangan?

Sekulerisme Biang Keladi

Penyelesaian bullying harus dilakukan secara tuntas. Karenanya, perlu diurai apa penyebab kasus ini semakin marak, terutama di kalangan pelajar. Setidaknya ada tiga penyebab utama.

Pertama, keluarga teracuni paham sekulerisme. Sekulerisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Saat ini sudah menjangkiti mayoritas keluarga muslim. Meski beragama Islam, nyatanya pola pikir dan pola sikap individu-individu muslim tidak mencerminkan Islam.

Islam hanya digunakan ketika beribadah. Standar baik buruk tidak lagi disandarkan kepada Islam. Maka tak heran jika generasi yang lahir dari keluarga semacam ini tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Semua disandarkan pada hawa nafsu semata. Sakit hati, langsung emosi, tak peduli bagaimana perasaan orang lain, soal resiko itu urusan nanti.

Kedua, lingkungan yang abai. Berjangkitnya paham sekulerisme tak ayal membuat masyarakat bermental individualis. Lingkungan sekolah dan masyarakat yang seharusnya bisa menjadi kontrol terhadap perilaku buruk pelajar nyatanya tidak berperan. Sikap abai mengemuka. Yang penting bukan saya dan keluarga saya yang kena, cuek aja. Begitu mindsetnya. Hal ini membuat kasus bullying semakin merebak.

Ketiga, negara tidak hadir sebagai pelayan umat. Negara memiliki peran sentral membentuk generasi bertakwa, yang tidak hanya berprestasi namun juga memiliki akhlak yang mulia. Jika negara hadir, tentu kasus bullying pada pelajar SMP di Cilacap ini tidak akan terjadi. Pasalnya, pelaku ternyata diketahui merupakan salah satu siswa berprestasi.

Saatnya Kembali Kepada Islam Kaffah

Sebagai negeri dengan mayoritas penduduknya muslim seharusnya membuat kita malu menjadi negara dengan kasus bullying tertinggi ke-lima di dunia. Rasa malu itulah yang kemudian mendorong kaum muslim negeri ini untuk kembali kepada Islam kaffah.

Di dalam Islam, perilaku kekerasan apapun motif dan bentuknya, tidak dibenarkan. Bahkan, Islam memberlakukan sanksi yang tegas bagi pelaku kekerasan. Hal ini sebagaimana tercantum di dalam firman Allah SWT.

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَآ أَنَّ ٱلنَّفْسَ بِٱلنَّفْسِ وَٱلْعَيْنَ بِٱلْعَيْنِ وَٱلْأَنفَ بِٱلْأَنفِ وَٱلْأُذُنَ بِٱلْأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُۥ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisas-nya (balasan yang sama). Barangsiapa melepaskan (hak qisas)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zhalim.” (QS. Al Maidah: 45).

Perilaku kekerasan harus dicegah dengan berbagai cara. Diantara cara yang dapat ditempuh antara lain sebagai berikut.

Keluarga muslim menerapkan pola asuh islami, dengan menyandarkan standar baik-buruk kepada syariat. Penting bagi setiap orang tua untuk menanamkan hal ini sejak dini kepada buah hati. Hadits-hadits terkait jangan marah, bersikap ahsan kepada orang lain tidak hanya dihafal, namun juga dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah juga berperan membentuk karakter pelajar yang berakhlakul karimah. Sejak pendidikan dasar sudah ditanamkan keimanan kepada Allah juga hari akhir. Hal ini akan mendorong pelajar memiliki rasa takut jika melanggar syariat-Nya.

Menyakiti orang lain, baik secara verbal maupun fisik merupakan tindakan yang melanggar syariat, terlebih merugikan orang lain. Tindakan-tindakan semacam ini tidak bisa dibiarkan atau bahkan dimaafkan dengan dalih hanya bercanda. Harus ada tindakan serius dari instansi terkait agar pelajar tidak menganggap remeh bullying. Lingkungan juga harus peka jika terindikasi terjadi bullying, tidak cuek dan abai.

Jika tindakan pencegahan sudah dilakukan, tetapi bullying tetap terjadi, maka negara harus memberlakukan sanksi yang tegas sesuai syariat. Pemberlakuan sanksi tidak boleh terhalang dengan alasan anak masih di bawah umur. Di dalam Islam, setiap anak yang sudah baligh sudah terbebani hukum (menjadi mukallaf), maka hukuman terhadap tindakan bullying dapat diberlakukan terhadap pelaku remaja yang sudah baligh. Tentunya dengan melakukan penyidikan dulu sebelumnya.

Dengan inilah maka kasus bullying dapat diberantas hingga ke akar-akarnya.
Wallahu’alam bishawab.

Referensi:
1. https://liputan6.com
2. https://tribunnews.com
3. https://muslimahnews.com
4. https://youtu.be

Comment