Oleh: Hasan M. Soedjono, Mantan Komisaris Independen Garuda Air Ways
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Bukan maksud saya untuk tidak berterima kasih atas kemurahan hati Sarah Gilbert, Oxford dan pemerintah UK.
Tapi baiknya kita punya perspektif yang lengkap, supaya tidak melihat sesuatu hanya dari satu sisi pandang, yang ditulis oleh orang yang kurang lengkap melihat sejarahnya, yang justru mengabaikan fakta dan data yang sebenarnya.
Sebetulnya banyak temuan teroboson yang meningkatkan kualitas hidup seluruh manusia di muka bumi dan tidak dijadikan sumber memperkaya diri oleh penemunya.
Kalau untuk dunia medikal, maka ada beberapa obat atau vaksin manjur di dunia yang tidak dijadikan sumber mencari kekayaan material oleh penemunya. Tiga yang kini terkenal adalah Astra Zeneca, Insulin, dan vaksin Polio.
Vaksin Polio ditemukan ilmuwan AS bernama Jonas Salk, direktur Laboratorium Penelitian Virus di Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburgh, USA. Albert Sabin — lulusan New York University tetapi baru lima tahun setelah lulus dan bekerja di Rockefeller Institute for Medical Research kemudian menciptakan vaksin polio berbentuk tetesan yang sangat mudah dikonsumsi sehingga mudah diterima seluruh pelosok dunia.
Hibah Salk dan Sabin pada dunia merupakan hibah yang sangat ikhlas. Mereka langsung membuka formula, rahasia, dan cara membuatnya bagi seluruh dunia tanpa kecuali. Tidak hanya dia tidak menjadi kaya, tetapi dianugerahi hadiah Nobel pun tidak.
Kedua, yang ingin saya sampaikan adalah Insulin. Sir Frederick G. Banting, Charles H. Best dan JJR Macleod dari University of Toronto, Kanada, di tahun 1921 adalah trio yang menemukan Insulin untuk mengobati diabetes. Seperti Salk, mereka juga tidak mengambil keuntungan materi pribadi dari temuannya.
Berbeda dari Salk (yang membuka temuannya pada siapa saja), Banting cs menghibahkan seluruh temuannya pada Universitas Toronto saja. Tentu maksudnya baik, karena selain memang Universitas Toronto yang memfasilitasi mereka, keuntungan paten Insulin diharap akan menjadi sumber pendanaan yang sangat penting bagi Universitas Toronto, yang pada gilirannya akan menguntungkan publik melalui pendidikan tinggi.
Apa yang terjadi berikutnya adalah Universitas Toronto menunjuk tiga perusahaan Big Pharma dunia (ketiga-tiganya bermarkas di AS, tidak satupun bermarkas di Kanada). Hanya tiga perusahaan tersebut yang sampai sekarang (lebih dari enam dekade kemudian) boleh memproduksi Insulin untuk seluruh dunia — Eli Lilly, Novo Nordisk dan Sanofi.
Bertiga, mereka menguasai lebih dari 90 persen pasar dunia. Sebagaimana kita tahu, Insulin adalah obat yang sangat mahal (baca: sangat amat menguntungkan bagi Eli Lilly, Novo Nordisk dan Sanofi).
Lah kan itu lebih dari lima puluhan tahun silam? Bukannya hak paten eksklusif hanya berumur 17 tahun? Begini: Yang ketiga Big Pharma tersebut perbuat adalah setiap mendekati akhir periode 17 tahun, mereka mengajukan hak patent baru yang sedikit saja mengubah proses pembuatannya.
Entah kenapa, Biro Paten AS selalu mengabulkan paten baru mereka tersebut. Padahal kadang-kadang pengajuan patennya bukan demi mengefisiensikan proses produksi! Kadang-kadang justru membuat prosesnya lebih mahal. Hal penting, bagi ketiga Big Pharma tadi, prosesnya berubah (meski tidak selalu berubah menjadi lebih baik), dan Biro Patent AS berkenan memperpanjang patent lama mereka. Kapitalisme bablas, menurut hemat saya.
Berikutnya adalah vaksin Oxford-Astra Zeneca. Harap dicatat: Vaksin Astra Zeneca adalah suatu kekeliruan nomenklatur. Yang benar adalah vaksin Oxford- Astra Zeneca. Pemilik paten adalah Universitas Oxford.
Nampaknya Sarah Gilbert mengikuti jejak para penemu Insulin. Semoga tidak seperti Insulin yang kemudian menjadi bablas mahal kemudian. Perlu dicatat bahwa (1) Dana abadi Oxford adalah salah satu yang terbesar di dunia dan yang jauh lebih besar dari dana abadi universitas di Eropa manapun.
Dengan kata lain, mereka tidak perlu pendanaan seperti Universitas Toronto; dan (2) Pemangku Dewan Wali Amanah Oxford terkenal memang sangat humanitarian dalam sejarah pendidikan tinggi di dunia. Pemerintah UK juga berperan dalam mencari upaya meringankan beban negara miskin.
Jadi Universitas Oxford yang memutuskan untuk mengadakan tender bagi pembuatan vaksin Oxford. Syarat utamanya adalah: Perusahaan Farma yang memenangkan tender wajib bersedia menanggalkan semua keuntungan finansial selama dua tahun pertama. Hanya boleh impas (break-even).
Berarti, 15 tahun setelah dua tahun pertama (dan sekarang satu tahun dari dua tahun pertama tsb sudah berselang), si pemenang penunjukan oleh Oxford akan bisa menjual vaksin Oxford sesuai kaidah bisnis murni.
Tidak satupun dari 10-Besar perusahaan Big Pharma bersedia bahkan sekedar ikut tender tersebut. Pastinya, mereka anggap tuntutan Oxford terlalu besar — kurang menguntungkan secara bisnis bagi 10 Besar.
Urutan 10 Besar adalah Johnson & Johnson di peringkat 1, Roche, AbbVie, Bayer, Bristol-Myers Squibb, Merck & Co., Pfizer, GSK, Novartis dan Sanofi. (Untuk memberi gambaran perbandingan Johnson & Johnson yang nomor 1 menikmati value tiga kali lipat dari Sanofi yang nomor 10.)
Hanya Astra Zeneca yang mau. AZ adalah peringkat 12 dunia. Empat kali lipat lebih kecil dari J&J. Saking beratnya syarat Oxford, maka Oxford membolehkan AZ memasukkan ayat dalam kontrak penjualan vaksin Oxford AZ bahwa pembeli harus bayar kontrak di muka, dan bila ternyata vaksin Oxford AZ ternyata tidak manjur untuk alasan apapun, maka uang muka tidak akan dikembalikan. Perlu dicatat bahwa AZ adalah perusahaan UK dan Swedia dan bermarkas di UK.
Jadi untuk kita-kita yang di Indonesia yang bertanya “Kenapa sih Indonesia engga ikut pesan Oxford AZ dalam jumlah besar sedari awal,” ya sebabnya adalah karena tahun lalu (waktu tak ada satupun vaksin yang sudah pasti akan dapat restu WHO, FDA, MHRA (UK), dan EMA (EU), syarat uang tidak akan kembali uang dianggap sangat memberatkan bagi RI, dan sangat berisiko bagi pribadi pejabat yang memutuskan karena secara teknis, bila ternyata uang memang tidak kembali, bisa dijerat pasal korupsi karena telah “merugikan negara.”
Kembali ke Sarah Gilbert, sudah sepantasnya kita mengacungkan jempol dan mengapresiasi pengorbanan Sarah Gilbert, dan berterima kasih pada Oxford yang berupaya agar dunia punya akses ke vaksin murah meski hanya untuk dua tahun (dan sekarang tinggal satu tahun), dan menyampaikan penghargaan pada pemerintah UK, yang — tidak seperti pemerintah AS — masih memikirkan nasib dan ketidak-mampuan banyak negara lain.
Tetapi seyogianya, kita jangan sampai pernah lupa bahwa bulan madu vaksin Oxford-AZ yang murah hanya akan dinikmati dunia untuk satu tahun lagi saja. Setelah masa “puasa laba” tsb berakhir, maka vaksin Oxford-AZ akan bebas untuk naik membubung seperti saudara-saudaranya dari Pfizer, Moderna, J & J, Sputnik, dan Sinopharm.
Prikemanusiaan Sarah Gilbert memang sama seperti Salk dan Sir Frederick Banting cs, tetapi kebaikan tsb belum tentu akan menghasilkan mahakarya yang sedari awal dan selamanya dapat dinikmati semua golongan masyarakat di muka bumi seperti yang Salk sumbangkan. Seperti Insulin yang telah keliru memberi lisensi ke monopoli tiga perusahaan, maka Oxford AZ pada gilirannya sebentar lagi akan bahkan menjadi monopoli satu perusahaan saja.
Perlu herankah kita mengapa hanya Oxford AZ yang produksinya tersendat di tahun pertama, padahal untung besar baru akan mulai mengalir di tahun ketiga, dst?[]
Comment