Penulis: Oom Rohmawati | Pegiat literasi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Perang akan senantiasa menyisakan derita yang berkepanjangan bagi manusia dan peradaban. Selain hilangnya nyawa, harta benda, kebebasan serta ketenangan pun berubah menjadi jeritan pilu yang menyayat kalbu seperti masyarakat muslim di Palestina.
Sejak bercokolnya zionis Yahudi di bumi Syam hingga 7 Oktober 2023, penguasaan wilayah Palestina yang diiringi borbardir senjata membuat kesengsaraan yang terus-menerus bagi warga Palestina.
Bahkan di bulan suci sekalipun aksi brutalnya tak pernah surut. Hal ini menimbulkan kemarahan umat di seluruh dunia, baik warga Muslim maupun nonmuslim. Berbagai aksi protes dan ungkapan rasa prihatin mereka tunjukkan. Seperti demonstrasi, menggalang dana, kecaman, dan pemboikotan produk Yahudi Israel pun terus digaungkan.
Sehingga menjelang Ramadan, sejumlah perusahaan kurma asal Israel ketar-ketir, karena takut produk buatannya tidak laku di pasaran.
Ramadan memang identik dengan menu berbuka seperti kurma dengan berbagai jenisnya. Namun sejak aksi biadab yang ditampakkan zionis Israel terhadap warga Palestina, menyusul pertumpahan darah di Gaza yang menewaskan 30.000 dan 69.000 orang terluka dalam waktu lima bulan, umat Muslim melakukan pengawasan ketat terhadap produk-produk Israel, termasuk buah kurma.
Salah seorang pengusaha yang memiliki hubungan dengan industri kurma mengungkapkan setiap pembeli yang mendekati rak kurma dan bertuliskan buatan Israel, mereka mengurungkan niatnya.
Fakta di atas merupakan bentuk protes warga masyarakat terhadap Israel yang selama ini telah menyakiti rakyat Palestina. Boikot ini adalah salah satu cara untuk menunjukkan sikap bahwa mereka tak menyukai aksi brutal Israel pada warga Palestina.
Di samping sulitnya akses pengiriman bantuan logistik untuk rakyat Palestina, bantuan tenaga dan senjata dalam komando militer juga tak pernah terjadi. Pemimpin di negeri-negeri muslim hanya bisa mengecam tanpa bisa membela secara riil yakni dengan mengerahkan pasukan militernya menghadapi Israel.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang hubungan luar negeri dan internasional melalui fatwanya menyerukan hal yang sama yaitu untuk melakukan boikot dan meneliti label ketika membeli kurma, khawatir diproduksi atau dikemas di Israel atau pemukiman tepi Barat.
Apabila tidak ada label negara asal yang ditemukan pada kotak, maka harus periksa di situs web pengecer. Sebab Israel merupakan produsen kurma terbesar di dunia. Salah satunya yang sudah populer yaitu kurma Medjool.
Akan tetapi menurut Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa Israel bukanlah negara utama yang memasok ke Indonesia. Negara pemasok kurma terbesarnya adalah Mesir. Bahkan ada kurma Palestina yang dibawa ke Inggris oleh Zaytoun, sebuah perusahaan sosial yang mendukung petani Palestina melalui perdagangan yang adil. Jadi Muslim di Indonesia masih bisa menikmati buah kurma dan pemboikotan tetap berjalan. (Kumparan.com)
Menurut Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf, menghentikan kebrutalan zionis tidak cukup dengan aksi boikot produk Israel saja. Meskipun berpengaruh pada ekonomi mereka, tetapi tidak membuat mereka berhenti menyerang Palestina. Yahya Kholil berharap ada upaya yang lebih besar lagi selain boikot, baik dari Indonesia maupun negara-negara lain untuk memaksa Israel menghentikan serangannya. (TVOneNews, 9/3/2024)
Oleh karena itu seruan boikot seharusnya tidak pada produknya saja, tapi harus total sampai ke pemikiran-pemikiran yang membuat negeri-negeri Muslim diam melihat Palestina diserang.
Produk pemikiran yang dimaksud ialah nasionalisme, liberalisme, demokrasi, dan kapitalisme, termasuk induknya, yakni sekularisme. Pemikiran inilah yang harus diboikot dari negeri-negeri Islam.
Sebab ideologi ini pula yang terus menyebarkan pemikirannya ke seluruh dunia dengan pendekatan hegemoni.
Nasionalisme yang telah memecah belah umat Islam. Akibatnya bangsa yang satu dengan lainnya saling mendominasi untuk mengeruk kekayaan dan sumber alam lainnya. Nasionalisme juga yang menjadikan negara Muslim diam menyaksikan saudaranya dibantai.
Satu-satunya ideologi yang bisa memberikan keamanan dan kesejahteraan adalah sistem Islam atau sebuah negara yang di dalamnya diterapkan syariat Islam.
Islam pernah jaya selama 13 abad lamanya. Namun Inggris beserta sekutunya menghancurkan Khilafah Utsmaniyah melalui tangan laknatullah Mustafa Kemal Attaturk.
Sejak itu, negara-negara Muslim mulai melepaskan ideologi Islam dan memegang kapitalisme dan turut serta meniupkan nasionalisme. Padahal, nasionalisme adalah salah satu ide sekuler untuk memecah persatuan kaum Muslim.
Untuk seluruh umat di dunia, khususnya negeri Muslim, selayaknya sadar bahwa hanya dengan kembali pada ideologi dan sistem Islam-lah yang dapat menyelamatkan Palestina dan mengembalikan persatuan umat. Aktivitas riil untuk mengembalikan itu semua adalah dengan dakwah, baik fisik ataupun pemikiran.
Setiap Muslim yang memiliki dorongan iman yang kuat dan menjadikan ideologi Islam sebagai landasan, wajib menyadarkan saudara seimannya agar menyadari pentingnya dakwah pemikiran, yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan. Sehingga umat memiliki persai (pelindung) sebagaimana Rasulullah saw. telah bersabda;
“Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Ia akan dijadikan perisai yang orang-orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika ia memerintahkan takwa kepada Allah Taala, dan adil, maka dengannya ia akan mendapatkan pahala. Namun, jika ia memerintahkan yang lain, ia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian, umat akan menyadari pentingnya bersatu dalam naungan sistem Islam warisan Rasulullah karena hanya sistem ini yang akan mewujudkan persatuan umat dalam satu kepemimpinan.
Saat itulah waktu yang tepat untuk menyelamatkan Palestina dari kekejaman zionis Israel sekaligus satu-satunya pemimpin yang mampu memboikot pemikiran sekuler kapitalisme secara total.Wallahu a’lam bishawwab.[]
Comment